Sunday, 4 November 2012

Sisi gelap Gay-Affirmative Counseling


Ini adalah opini pribadi seorang wanita. Saya bukan psikolog, tapi saya punya otak dan pengalaman. It’s up to you lah. Silakan kalau mau percaya pada APA (American Psychological Association). It’s none of my business.


Gay Affirmative counseling, kedengarannya bagus untuk para gay. Tapi entah mengapa, ketika saya membaca (saya tak pernah mengalaminya, karena saya bukan gay dan bukan lesbian, Sexual Orientation and Psychoanalysis (karya siapa saya lupa). Saya heteroseksual) membaca buku laporannya, saya kok malah protes yah. Ini adalah komentar sebuah kasus yang dipecahkan dengan model Psikoanalisa Freudian dan gay-affirmative counseling. Tapi, karena saya Jungian murni (tentunya dengan persepsi yang mengacu pada teori aslinya, tanpa embel-embel gay-affirmative, sorry my lesbians pals!)

Salah satu kasus yang disampaikan dalam buku tersebut adalah kasus ibu JE (ibu karena umurnya sudah 80 thn) yang didiagnosa oleh si psikoanalis sebagai seorang lesbian yang terkena homophobia. Dia dibilang seperti itu karena begitu malu menyembunyikan kenyataan dia pernah punya hubungan dengan seorang wanita bernama M. Selain itu JE  punya hubungan ambigu dengan ibunya. Secara singkatnya, ibunya adalah wanita aseksual yang membenci lelaki dan melarang JE berhubungan seks dengan siapapun, dan cenderung erotophobik. Tetapi sang ibu juga nyentrik. Dia sering menyandarkan segala beban psikologisnya pada JE, bahkan di berbagai kesempatan seperti menganggap putrinya tersebut adalah pengganti suaminya (ayah JE) yang bercerai dengannya. Ketika JE berusaha berhubungan dengan lelaki (dan M, yang notabene seorang perempuan), ibu JE berusaha ‘menghalang-halangi’. Begitulah menurut pengakuan JE. Dari ceritanya, saya langsung bisa beranggapan bahwa hubungan disfungsional antara JE dan ibunya, serta ketiadaan tokoh lelaki dalam hidup JE, menjadikannya bingung, terutama dengan seksualitasnya. Kebingungan itu entah mengapa diartikan si psikoanalis sebagai ‘homophobia’. Saya tak habis pikir bagaimana dia bisa mendiagnosa seperti itu. Bahkan seorang heteroseksual pun pasti bingung bila diperlakukan ibunya seperti itu. Mau berhubungan dengan orang lain saja tak boleh, seorang yang tak didiskriminasi pun bisa mengalami gangguan kepribadian bila diasuh dengan ibu seperti ini, ibu yang double-bind dalam komunikasi. Untungnya JE masih bis aberpikir secara jernih, jadi dia mengalami suatu kebencian saja, bukan BDD atau skizofrenia.
Yang membuat saya geregetan juga adalah, begitu enggak sensitifnya si psikoanalis. Sudah tahu dia seorang homoseksual yang baru coming out, mengapa ia menggunakan teknik konfrontasi?? Itu kan sama sekali tidak berhati-hati terhadap perasaan klien. Walaupun si psikoanalis ini Ph.D, saya gak akan ragu bilang kalau dia tuh stupid. Yah, gimana engga, sudah lama jadi psikoterapis kok ya ngga sensitive gitu loh!
Tapi bisa dimengerti lah, Freud sendiri orangnya juga gitu (sorry, Mr. Sigmund).  Seteah itu, secara singkat sang penulsi/ psikoanalis mengatakan bahwa dalam beberapa sesi, si JE bisa menghilangkan homofobianya.

Saya sejujurnya tidak puas, karena baru kali ini saya mereview gay-affirmative counseling, tapi kok dikit banget detail kasusnya. Saya jadi curiga. Ini beneran melakukan terapi atau cuma terapi pain-killer ajah sih??

Menurut saya kelemahan cara konseling/ psikoterapinya adalah :

1.     Pemilihan teknik yang sangat kurang tepat. Untuk orang-orang yang memang pernah mengalami diskriminasi (baik yang obyektif ataupun yang hanya dipersepsi), lebih baik gunakan teknik refleksi dan empati. Dengan merefleksi terus-menerus, orang yang sensitive saya yakin akan lebih cepat menyadari kekurangan dalam pemikirannya. Misalnya JE akan mulai menyadari kebenciannya terhadap seks itu irasional. Tapi teknik refleksi adalah teknik Rogerian, jadi ya so pasti psikoanalisnya ga mau lah pakai teknik ini.
2.     Kurang banyak memberikan informasi tentang gejala-gejala kejiwaan. Masa’ begitu saja di diagnose ‘homofobia”?? Padahal yang paling utama adalah memperbaiki konstruksi persepsi JE terhadap hubungannya dengan ibunya. Caranya, cobalah dengan teknik empty chairnya Analisis Transaksional, atau teknik reenactment-nya Gestalt. Atau kalau saya, saya akan menggunakan teknik Art Therapy ala Jung. Buat dia mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang ibunya. Setelah itu dorong ia untuk memaafkan sang ibu dengan mengingat segala kebaikan ibunya. Kalau masih belum bisa, konseling bisa diteruskan di sesi-sesi selanjutnya dengan tujuan menghilangkan rasa marah pada ibunya.
3.     Memberikan pemahaman tentang seksualitas yang lebih luas, tentang mengapa ia tertarik pada M, yang ia ceritakan memiliki kualitas-kualitas yang ia idamkan ada dalam dirinya. Berikan contoh-contoh kasus seperti filosofi Sufistik tentang bersatu dengan sesuatu yang kita ‘cintai’ sebenarnya adalah ekspresi keinginan diri untuk menjadi seperti dirinya.
4.     Berikan pilihan yang lebih banyak tentang bagaimana ia menghadapi erotofobianya. Dengan begitu dia akan lebih terbuka tentang persepsinya terhadap seks. Fobia yang diturunkan dari orang tua dan anak itu biasa ditemukan. Banyak kok contohnya.
5.     Berikan pelatihan kognitif, dengan cara ketika ia muncul rasa sebal terhadap seks, gunakan affirmasi dalam dirinya bahwa “seks bukan hal yang menakutkan”, “saya tidak takut pada seks’.

Dengan cara seperti itu, JE bisa menghadapi kenyataan, daripada hanya bilang I was homophobic, lebih baik bilang bahwa I was erotophobic. Masalah orientasi seksual, saya yakin JE akan lebih jernih persepsinya bila dia sudah mulai melepaskan kebencian dan erotophobianya :)

Biasanya, seorang homoseksual dengan ego-dystonic homosexuality akan memilih menjadi heteroseksual atau aseksual setelah terapi. Yah, tapi kalau diterapi dengan cara yang kurang tepat yang jadinya gitu deh. :)


Sori-dori-mari to Freud's fans :D  

Tuesday, 21 February 2012

Tiga Gender dalam Islam : Lelaki, Perempuan dan Intersex

Melihat berita ini, dan melihat dorama IS, saya akhirnya bisa menjelaskan dengan lebih 'visual' tentang intersex. Tapi sebelumnya mungkin lebih baik kita melihat siapa itu laki-laki dan siapa itu perempuan.

Laki-laki adalah gender yang disematkan pada individu yang memiliki kromosom XY, mengalami pertumbuhan biologis dan psikologis sebagai seorang laki-laki (pernah mimpi basah dengan seorang wanita), dan memiliki alat kelamin laki-laki. Gender ini adalah gender yang dilihat sebagai 'penguasa' pada sistem dunia patriarkal.  nah ini adalah definisi laki-laki menurut ketentuan universal (non-agamis).

Lalu, siapa perempuan? Perempuan adalah gender yang disematkan dalam individu yang memiliki kromoseom XX, mengalami pertumbuhan seksual sekunder sebagai seorang wanita,  dan memiliki alat kelamin wanita. Persepsinya pun wanita.

Dan kemudian para ilmuwan pun bertanya, lalu orang yang memiliki hormon XXY atau hormon XY tapi tidak punya alat kelamin lelaki disebut apa? Mereka adalah intersex. 

Intersex dalam dunia Barat sering dikesampingkan. Tidak seperti fenomena homoseksualisme (baik laki-laki maupun perempuan) yang sudah lumrah sejak jaman Yunani Kuno, intersex sering menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Barat. Dan kita harus tahu bahwa keberadaannya perlu diakui karena fakta biologis telah memberikan seperti itu. 
Namun terdapat miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang intersex. Ada kecenderungan yang bilang bahwa intersex yang secara alami disamaratakan dengan banci atau transeksual. Bahkan ada yang menganggap kaum homoseksual sebagai bagian dari intersex. Ini semakin mengaburkan eksisitensi dari intersex sejati karena transeksual dan kaum homoseksual tidak mengalami kesulitan dan beban psikologis yang sama dengan intersex. 

Homoseksual misalnya, tak perlu bingung tentang identitas gendernya. Mereka tahu benar bahwa diri mereka lelaki atau pun mereka perempuan. Hanya orientasi seks mereka adalah menyukai sesama jenis. Transeksual pun ada dua macam, yaitu transeksual yang sebenarnya hanya homoseksual yang berbaju perempuan dan transeksual yang memang mengalami GID (Gender Identity Disorder/ Kelainan Identitas Jender). Homoseksual yang berbaju perempuan misalnya tak punya kesulitan berarti dalam melihat identitas gendernya. Dia tahu benar dia adalah lelaki, hanya saja ia ingin berhubungan seks dengan lelaki. Sedangkan individu yang mengalami GID, mereka perlu dibantu karena sangat bingung dengan dirinya.

Lain lagi dengan intersex, dalam serie IS di atas misalnya, Haru dan Miwako harus bergelut dengan identitasnya sebagai intersex. Haru yang semenjak kecil dibesarkan sebagai lelaki tetapi ketika berusia 15 tahun haru mengahdapai kenyataan bahwa ia seorang wanita dengan munculnya siklus haid. Sedangkan Miwako yang dibesarkan sebagai perempuan malah mengalami pertumbuhan genital lelaki pada akhirnya (ia mengalami keterlambatan pertumbuhan alat kelamin lelaki). Mereka berdua harus menghadapi kenyataan, mispersepsi tentang gender mereka dan juga sikap kedua keluarga mereka dalam menghadapi fenomena interseksualitas itu. Miwako bahkan sempat jatuh hati pada Haru walaupun mereka berdua sama-sama mengenakan baju siswi (yang merupakan identitas gender). Setting atau latar dari serial ini adalah Jepang, sebuah negara dengan budaya yang sangat ketat dalam membedakan identitas gender (tetapi pernah menajdi tempat permisif untuk budaya homosekualisme lelaki). 

Fenomena ini juga menjadi tinjauan yang miris. Kalau pada jaman Yunani, misalnya ada individu yang terlahir dengan dua alat kelamin, ia akan menjadi tontonan. Bahkan di Amerika ada yang memutuskan menjadi bintang sirkus karena susah mencari pekerjaan sebagai seorang intersex. Kalau kita bandingkan, budaya-budaya tersebuat OK-OK saja dengan homoseksualisme, tapi bersikap membutakan diri dengan fenomena intersex. Agama datang dan akhirnya memberikan pencerahan tentang itu semua. 

Dalam Islam, keberadaan intersex diakui. Bahkan ada hadist yang secara gamblang menjelaskan tentang fenomena ini. Ini adalah kutipan dari situs ini tentang intersex : 
 Khuntsa
Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir, yaitu kelamin laki-laki dan kelamin wanita. Tapi kejadiannya sangat jarang terjadi, walau tetap dituliskan oleh para ulama dalam kitab fiqih mereka terdahulu. Artinya kasusnya bukan sama sekali tidak ada, hanya jarang sekali terjadi.
Para ulama menuliskan ada dua jenis khuntsa. Pertama Khuntsa biasa dan kedua khuntsa musykil.
Khutnsa biasa adalah seorang yang lahir dalam keadaan punya dua alat kelamin sekaligus. Namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan dan lebih berfungsi. Sedangkan alat kelamin yang satunya kurang dominan, walaupun mungkin saja sedikit berfungsi.
Adapun khuntsa musykil, sesuai namanya, memang musykilah. Lantaran dia terlahir dengan dua alat kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Tapi dari sekian banyak khuntsa, yang sampai ke level musykil ini nyaris hampir tidak pernah ada.
Khuntsa pada hakikatnya bukan banci, karena meski dia punya dua alat kelamin, namun salah satunya lebih dominan. Misalnya lebih dominan alat kelamin laki-laki. Meski punya alat kelamin perempuan, namun dia malah tidak mau berpenampilan sebagai perempuan. Penampilannya tetap seperti laki-laki seperti biasa.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas radhyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang bayi yang lahir dengan dua jenis kelamin, bagaimana urusan pembagian warisannya. Beliau SAW menjawab, "Dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana kencingnya." (HR Al-Baihaqi)

Maksudnya, kalau dia kencing lewat kelamin laki-lakinya, maka dia dianggap laki-laki. Sebaliknya, kalau kencing lewat kelamin perempuannya, maka dia dianggap sebagai perempuan. Ini penting, karena pembagian harta warisan akan berbeda antara anak laki dengan anak perempuan.
Namun karena adanya dua kelamin secara alami ini, para ulama menetapan bahwa khuntsa tidak dibenarkan menjadi imam buat jamaah yang laki-laki. Juga tidak dibenarkan jadi imam buat sesama khuntsa.

Sudah jelas bahwa dalam Islam intersex diakui, tapi tidak dengan perbuatan homoseksual. Maka dalam budaya Islam, kita menggunakan budaya tiga gender, buka dwi-seksual seperti Barat. Budaya tiga gender memberikan persepsi menyeluruh tentang identitas diri, hukum politik, fungsi seorang individu dalam masyarakat dan lain-lain. Budaya dwi-seksualisme (heteroseksual dan homoseksual) mempunyai efek besar dalam masyarakat, seperti yang sudah saya postkan terdahulu. 

OK, Silakan merenung! 

Sunday, 22 January 2012

Persepsi Perempuan dan Laki-laki dalam budaya Jawa: Srikandhi dan Arjuna

Assalamu'alaikum wr, wb,



Hari ini aku ingin uneg-uneg lagi, mengingat aku mau ngeposin komentar seorang wanita yang memasukkan Srikandhi dalam transgender (kalau dalam versi Mahabharata asli dia emang gitu). Entah mengapa karena ga berhasil jadi sebel terus aku ingin membuat analisis tentang penokohan wayang dalam persepsi sosiologisku sebagai wanita Jawa yang tahu-tahu sedikit dengan budaya lain. Yah, lagi-lagi pemikiran anehku.

Srikandhi
Karena aku cewek, maka yang pertama akan aku bahas adalah Srikandi. Srikandi yang entah mengapa kalau di wayang Jawa digambarkan sebagai wanita berwajah hitam (mungkin karena dia reinkarnasi cewek yang ditolak cintanya oleh Bisma, dia digambarkan sebagai wanita yang engga secantik istri-istri Arjuna yang lain) tapi beberapa wayang yang lain mennggambarkannya dengan tampilan yang cantik, sesuai dengan persepsi orang Jawa kalau dia cantik (ga thau deh....). Walaupun penggambaran pertamanya sangat ga sesuai dengan persepsi orang Jawa tentang bagaimana wanita yang cantik itu (kulit kuning langsat, jalannya bagai putri Solo), tapi Srikandi sering dipersepsikan wanita Indonesia masa kini sebagai wanita yang ideal, melebihi tokoh pewayangan lain, bahkan lebih populer daripada Drupadi. Coba tanya sama anak sekolah apa mereka tahu Srikandi, pasti mereka tahu lah, tapi kalu Drupadi jarang ada yang tahu.

versi moderen Srikandi (kaya valkyrie kan??)

Srikandhi adalah wanita yang cantik (mungkin kaya idolaku dek Rihanna, gyahahaha...mulai deh khayalannya...), pandai bertarung dan cerdik. Dia adalah murid Arjuna dan sekaligus istrinya. Dia sangat maskulin, dengan sifat yang entah mengapa aku merasa sangat mirip dengan sifat para Valkyrie (mulai lagi dah khayalannya) yang sangat keren. Justru kemaskulinannya itulah yang membuat para wanita moderen terkagum-kagum pada Srikandi, Sejujurnya aku juga suka sama Srikandi, tapi dalam pikiranku dia lebih mirip dengan valkyrie dengan sifat pendendam, tahu bagaimana menahan rasa sakit dan bisa marah, berbeda dengan wanita pewayanagn lainnya. Ini mengingatkanku pada wanita-wanita legenda macam Loro Jonggrang dan Roro Mendut yang berani melawan laki-laki secara langsung (tanpa bantuan cowok) dengan cara kewanitaan mereka. Srikandi bagaimana pun memberikan jawaban bagaimana nenek moyangku melihat wanita ideal. Berbeda dengan orang China dan Jepang yang memuja kecantikan feminitas falik yang super pasif dan terkesan 'kemayu', lemah gemulai, wanita Jawa dituntut mandiri sejak dahulu kala. (kayanya lebih awal dari jaman Dyah Gitarja dan Ratu Sima deh)` karena adanya persepsi orang Jawa yang melihat hak laki-laki dan wanita sama, hanya tugasnya yang berbeda. Dari jaman aku kecil dulu, ibuku (dan ibu teman-temanku yang dari suku Jawa) selalu menanamkan bahwa wanita harus mandiri. Kata ibuku, karena aku wanita makanya aku harus lebih kuat, lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada laki-laki. Alasannya sih gampang, kalau suatu saat nanti suamimu meninggalkanmu (entah karena cerai atau meninggal), kita bisa tetap 'hidup' dan tidak mengeluh. Waktu aku tanya teman-temanku, ternyata mereka juga punya pengalaman yang sama. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Srikandi adalah gambaran ideal wanita Jawa. Walaupun ia keren seperti itu, tapi ia adalah pribadi yang patuh pada suaminya (yang keren banget juga) dan tahu diri terhadap takdirnya sebagai seorang wanita.

Arjuna
Baiklah, kalau kita sudah  membahas bagimana wanita ideal dalam budaya Jawa, kita akan melihat laki-laki dalm budaya Jawa. Arjuna adalah figur yang selama ini digadang-gadang sebagai perwujudan lelaki ideal dalam budaya Jawa. Ia lebih cantik dan lemah gemulai daripada wanita, pecinta wanita tapi tak takut pertapaan, dan tingkah lakunya seanggun wanita. kata ibuku tokoh Arjuna termasuk tokoh yang rumit dijelaskan dalam konsep moderen. Ia lelaki yang sangat ksatria dan sangat cantik pada saat yang bersamaan. Entah mengapa melihat kriteria di atas aku malah jadi ingat dengan Uesugi Kenshin dan Toshizo Hijikata deh, yang keduanya digambarkan seperti itu (cuma mereka bukan pecinta wanita bagaikan Arjuna). Dia sangat feminin. penggambarannya pun sangat feminin. Dia idealis, penyayang (sifat ini juga sering membuatnya ragu-ragu dalam mengeksekusi pihak Kurawa) dan lemah gemulai. Sifat inilah yang membuatnya dicintai oleh banyak  wanita. yah, aku juga bakal cinta ma cowok ini kalau dia nyata lah. Cuma dia hanya ada di Mahabharata. Yang lainnya mungkin sangat tipikal Jawa, dia memahami wanita dan lembut terhadap wanita, tak terkecuali pada Srikandhi yang kurang cantik dan cewek dibanding istri-istri lainnya).

Kalau disimpulkan dari deskripsi dua tokoh pewayangan tersebut, bisa kita katakan bahwa perempuan ideal orang Jawa adalah wanita yang bisa menerima kemaskulinannya dan lelaki idealnya adalah lelaki yang tak takut menjadi seindah dan selembut wanita. Budaya ini juga membuatku membandingkan persepsi gender dalam budaya lain dengan persepsi Jawa. kalau dibandingkan budaya lain, persepsi jender dalam budaya Jawa lebih seimbang. Orang Jawa menyukai orang yang bisa menyeimbangkan elemen feminin dan maskulinnya.

So, for us, it's OK being a effeminate man as long as you are chivalrious and woman-loving man (not a transgender), and It's Ok to a masculine woman but remember your role as mother and wife. 
I think I like that perception :)


Sunday, 11 December 2011

Mengapa Gay dan Lesbianisme Dilarang dalam Agama?

Assalamu'alaikum!

FYI : Blog ini pro Islam dan ayat-ayat Al Quran jadi maaf bila tidak berkenan untuk beberapa pihak, terutama para aktivis LGBT, para lesbian dan gay sendiri. Maaf bila kata-kata saya Anda nilai mungkin terlalu menusuk dan Anda nilai diskriminatif. Tapi bagi Anda yang ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu, silakan dibaca ajah :)

Halo-halo! Sebenarnya saya sebagai seorang Muslim paling tidak tahu dan paling penasaran dengan alasan mengapa di kitab-kitab suci agama Samawi ada pelarangan terhadap homoseksualisme.

Saya juga sering tertegun karena beberapa self-report dari kasus psikoterapi juga 'mengiyakan' dan menormalkan homoseksualisme. Katanya, homoseks bukan penyimpangan, itu hanya variasi genetik. Lho kok agama lagi-lagi berseberangan sama sains sih?? Kok bisa?? Emang Tuhan bisa salah?? Apa kita yang salah menafsirkan ayat? Sering sekali terbersit pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saking penasarannya, akhirnya saya memutuskan untuk menilai sendiri dengan melihat argumen baik yang pro maupun yang kontra. Saya mulai dari yang pro dulu. Saya penasaran dengan pendapat para aktivis LGBT tentang gay dan homoseksualisme.Saya mencarinya di internet, tetapi kok sumbernya gak lengkap, akhirnya saya mencari di buku online. Diantara buku-buku yang saya temukan terdapat dua buku, yaitu The Origin of Same-sex Attraction dan Forbidden Friendship. Dari kata-katanya sudah sangat jelas sekali bahwa buku-buku ini sangatlah netral, bahkan cenderung berpihak pada aktivis HAM yang membela laki-laki dan perempuan, feminis dan lain-lain. Melihat dari sisi 'korban' adalah cara yang tepat, begitu saya pikir saat itu. Biasa... logika seorang guru BK. 

Dalam buku pertama (The Origin of SSA), penulis ingin mengungkapkan bahwa homoseksualisme ada di seluruh sejarah manusia. Penulis menjelaskan secara jelas tentang hubungan homoseksual (terutama gay atau homoseksual lelaki) dan budaya homoseksual sebelum budaya Kristiani seperti Yunani Kuno, Romawi, Jepang jaman Sengoku dan Edo serta budaya sufistik Islam (hey! bagi saya itu bukan homoseks...cuma cinta sufistik...penulis ini ngawur banget).
 Baiklah, kembali lagi ke buku ini, buku ini menjelaskan bahwa terdapat budaya yang 'baik-baik' saja dengan budaya homoseksual. Misalnya dalam budaya Yunani, sangatlah bisa bila seorang lelaki kaya memiliki anak muda yang dia jadikan simpanannya, Sang istri sudah paham. Begitu pula dengan keluarga, sudah tahu benar apa yang akan terjadi dengan putrinya bila menikah dengan lelaki kaya. Yah, itu karena dalam budaya Yunani Kuno wanita dianggap belum dewasa, tidak sepadan pengetahuannya dengan lelaki, sehingga suaminya pun 'berpetualang' mencari lelaki yang bisa memuaskan kebutuhan psikologis dengan mencari anak muda yang cerdas dan menarik. Begitu pula dengan para Samurai di jaman Sengoku dan Edo, jauh lebih mengagumi anak muda mungkin daripada istrinya. Cara Samurai 'mencintai' anak muda ini disebut wakashudo atau secara singkat dengan shudo. Contoh konkritnya sangat banyak, yang paling terkenal adalah Oda Nobunaga yang memiliki hubungan seksual dengan Mori Ranmaru dan Takeda Shingen yang memiliki hubungan cinta dengan Kosaka Masanobu. Hubungan mereka disejajarkan dengan ketrampilan ksatria Jepang lainnya seperti kendo, kyudo, judo, dan semua yang akhirannya do (BTW, artinya 'The way of..), yang berasosiasi dengan bushido atau jalan para ksatria. Para istri dan wanita bahkan memuja 'hubungan' ini sebagai kualitas maskulin seorang pria. Yah, hal ini juga terjadi di Yunani Kuno (The Sacred Band of Thebes) dan beberapa budaya kuno lainnya, jadi saya bisa maklum. Yang namanya militer jaman dahulu memang sangat memuja cinta antara prajurit, jadi terkadang jadi lebay alias berlebihan.

Kemudian di bagian lain buku ini penulis menerangkan bahwa cinta sufistik dalam Islam sangat berbau homoseksual. Tapi untuk sesi dan bab yang satu ini, saya sangat tidak setuju, karena seingat saya orang sufi tidak berhubungan seks dengan siapa pun.

Kesimpulan yang dapat ditarik si penulis adalah bahwa sejarah homoseksualisme sudahlah sangat lama dan banyak bangsa melakukannya tanpa adanya bencana yang datang kepada mereka setelah itu. bahkan ia memperkuat argumennya dengan bukti bahwa homoseksualisme (terutama male homosexuality) adalah genetik dan tak bisa diubah. Tapi kemudian saya melihat hidden facts yang disampaikan di kaskus (yang tidak diterbitkan karean dianggap menuai protes di Amerika ) bahwa hanya 5% dari seluruh populasi yang mengaku homoseksual (baik gay maupun lesbian) yang mendapatkan perilaku homseksualnya dari gen. Sedangkan sisanya adalah korban pelecehan seksaul yang tidak sadar pada kenyataan hidupnya (menjadi korban pelecehan). Yah, lagi-lagi ternyata buku ini banyak simpang siurnya, jadi saya agak ragu dengan kebenaran buku ini. Kok banyak yang ngawur ngawur. Saya malah jadi berpikir lain dengan simpulan yang dibuat oleh si pengarang.

Sekarang kita membicarakan buku kedua, yaitu Forbidden Friendship, yang lebih spesifik membahas tentang budaya homoseksualisme dalam masyarakat Florence atau Firenze pada tahun 1600-an. Di dalamnya dibahas tentang 'budaya' homoseksualisme, termasuk budaya yang bila diaplikasikan pada jaman ini bisa dilabeli dengan hubungan seks demi dominasi politik laki-laki kepada laki-laki yang lebih muda. Dalam prakteknya juga diterangkan bahwa cowok-cowok yang melakukan ini adalah lelaki yang maskulin, saking maskulinnya jadi perlu mendominasi lelaki lain dengan seks. Akibatnya banyak lelaki muda yang 'diancam' akan dibunuh bila tidak mau memberikan tubuhnya pada si lelaki pengancam. Bahkan ada banyak nyanyian dan puisi yang memuji budaya ini. Ini terjadi pada lelaki di usia 20-an dan 30-an. Saya jadi bingung, masa' cinta adalah dominasi? Malah rasanya seperti baca komik yaoi yah? Padahal saya sudah punya pikiran kalau yaoi tuh nggak nyata.

Tentang lesbianisme, saya akan menjelaskannya sesuai memori saya karena artikel internet lebih banyak memberikan penjelasan tentang fenomena lesbianisme. Tentang hubungannya dengan homoseksualisme yang dilakukan lelaki, tahukah Anda apa yang terjadi para wanita Lesbian penghuni pulau Lesbo dan para murid Sappho? Salah satu artikel di internet menyebutkan bahwa mereka akhirnya menikah dengan para elit kaya di Yunani dan ada kemungkinan juga harus menjalani hidup diselingkuhi suaminya yang mungkin punya cowok lain (oh..my...girl...). Jadi para orang Yunani Kuno tersebut sepertinya tidak segan-segan melukai harga diri istri mereka dengan melabeli mereka 'bodoh' dan memilih lelaki sebagai pelampiasan hasratnya. Ditambah lagi Plato yang entah mengapa memberikan pernyataan-pernyataan bias tentang wanita, jadi filosofi agung Yunani juga tak terlalu ambil pusing dengan nasib para wanita, atau perasaan mereka. No problem, eh? Hal ini karena budaya Yunani menempatkan lelaki sebagai pemimpin absolut dalam suatu hubungan, maskulinitas adalah kualitas terbaik, dan sebagainya. Yah, lagi-lagi saya harus maklum, biasa...orang-orang yang dibesarkan dalam iklim patriarkal menahun.

OK, sekarang kita beralih ke benua lain. Beralih ke Homoseksualisme yang dilakukan oleh wanita. Lesbianisme di beberapa daerah di Afrika dianggap bukan termasuk hubungan seksual karena hubungan seksual hanya terjadi bila ada *maaf* kelamin pria di dalamnya. Jadi cewek-cewek punya kebebasan yang sangat besar untuk mengeksplorasi hasrat seks mereka di sana. Yah, tahu sendiri kan, kissing, petting, dan lain-lain. Di lain pihak, para pria bila ketahuan berhubungan seks dengan pria lain bisa mendapatkan hukuman mati. Bisa dibilang fenomena ini sangat berkebalikan dengan fenomena di Yunani. Hal ini karena banyak suku di Afrika adalah matrilineal bahkan matriarkal, di mana keputusan tertinggi dipengaruhi oleh keputusan para wanita.

Kesimpulan yang saya ambil dari kedua buku di atas malah berbeda dengan para penulisnya. Beberapa hal yang bisa ditarik, terutama tentang pola kebudayaan homoseksualisme adalah :

  1. Bila ada suatu kelompok gender (laki-laki atau perempuan) yang berkuasa dan mempraktikan budaya homoseksualisme, terlepas dari orientasi seks dari pelaku, akan terjadi diskriminasi antara kelompok gender yang lebih berkuasa kepada gender yang lebih submisif. Misalnya seperti di atas. 
  2. Kultur, baik seni, filosofi, dan segala dampak kehidupan juga sangat berat sebelah dalam menilai gender yang lebih submisif. Misalnya pendapat Plato yang bias dan ambigu tentang wanita, juga pendapat Shingen Takeda (daimyo jaman Sengoku) yang menempatkan hubungan suami istri lebih rendah dari hubungan dua orang prajurit (terutama atasan-bawahan).
  3. Terdapat perbedaan tipis antara definisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seks, misalnya perkosaan (yang kemudian tidak ada istilah perkosaan bila hubungan seks itu dilakukan oleh dua orang lelaki, terlepas dari pihak yang satu merasa dipaksa). Contohnya adalah pada buku Forbidden Friendship tersebut.
Sekarang mari kita berandai-andai. Andai bila ada kesetaraan kekuatan antara dua gender Ynag keduanya mempraktikan budaya homoseksual, apakah yang akan terjadi? 
Ini adalah prakiraan saya, yang terjadi tentu saja (1) akan adanya dua kelompok gender manusia yang kurang bersimpati satu sama lain (tidak tertutup kemungkinan saling berperang atau sama sekali saling tidak mempedulikan), (2) adanya penurunan angka kelahiran manusia (tapi ini bagus menurut ekologi, karena yang kita butuhkan adalah ini) bersamaan dengan meningkatnya seks bebas yang betul-betul bebas (3) seandainya terjadi bencana (mari kita bayangkan bila ini BUKAN kutukan dari Tuhan), orang-orang terlalu sibuk bercinta dan berhubungan intim sehingga lupa melarikan diri seperti pada fenomena kota Pompeii

Bisa dibilang dalam praktiknya, lesbianisme dan homoseksualisme bila pelakunya massal, hanya akan menimbulkan distorsi moral dan kecemburuan antar manusia yang besar. Kecemburuan itu seperti kecemburuan sosial antar jender, antar lelaki dan perempuan dan perempuan dengan lelaki. Bayangkan saja bila ada budaya yang seperti itu, para suami ogah berhubungan badan dengan istrinya (yang sudah pandai), begitupun sebaliknya. Ingat! Wanita lebih punya kefleksibelan dalam memilih orientasi seksnya, bahkan wanita yang heteroseksual bisa jadi lesbian bila 'perlu'.

OPINI SAYA (...sangat subyektif):

Itulah mengapa Tuhan (Allah) menciptakan kita laki-laki dan perempuan agar kita saling mengenal. mengenal di sini bukan hanya dalam seks, tapi juga filosofis dan hubungan psikologis. Apakah kita ingin hidup di jaman di mana perkosaan dari seorang lelaki kepada lelaki lain adalah wajar?? Apakah kita mau kembali ke masa di mana para perempuan harus terima-terima saja bila suaminya selingkuh dengan lelaki lain?? Cobalah memahami ayat-ayat Tuhan. Mungkin bencana yang ditimpakan kaum Luth dengan kaum kita akan berbeda. Kaum Luth langsung bencana lama, kita bencana kemanusiaan. Sejarah telah membuktikan. Mungkin homoseksualisme dalam massa yang kecil tidak kentara, tapi dalam massa yang besar dapat mencederai persepsi kita tentang Hak Asasi Manusia.

Assalamu'alaikum!

Monday, 15 August 2011

Perbedaan Gender dalam Budaya Manga dan Budaya Kita

Assalamu'alaikum!

Sejujurnya, saya ingin segera menulis pikiran saya ini ke dalam blog mumpung masih hangat-hangat tahi ayam (aduuuuh...kenapa perumpamaan itu yang dipakai siiih???)

Saya baru saja membuka forum di mangafox.com (baru sejam yang lalu). Singkatnya forum yang membicarakan tentang tokoh di dalam komik serta pendapat pembaca tentang tokoh komik itu mengusik hati saya. Daripada bikin psuing kalau dipikirkan sendiri, yah lebih baik cuap-cuap di sini. OK, saya ingin mengutak-atik hal yang berhubungan dengan manga, terutama shojo manga. Kita tahu semua, sebagai cewek (cewek Indonesia tentunya) kita sering dibuat kesal oleh tokoh utama (protagonis) dalam shojo manga. Bukan hanya karena kita melihat tokoh utamanya punya banyak sifat yang tidak sreg dengan keinginan kita, tetapi juga karena dia dibuat terlalu sempurna. Saya masih ingat benar ketika saya mulai membenci karakter Noriko dalam komik Dunia Mimpi (Kanata Kara/ From Far Away) yang menurut saya terlalu dipaksakan dengan sifat kawaiinya. Dulu saya belum memahami mengapa saya mulai sebal dengan karakter yang pertamanya saya sukai. Kok tiba-tiba pendapat saya berubah ya? Nah, di bawah ini saya akan menjelaskannya. tentu saja menurut opini saya sendiri.
Sejujurnya saya suka komik straight seperti komik shojo (serial cantik) yang tokoh-tokohnya cutie-pie dan moe abis atau shonen manga yang tokohnya lucu dan punya cita-cita besar. Hanya saja, kenyataannya tokoh utama dalam komik shojo sering bertingkah 'tidak masuk akal' walaupun setting komiknya bercerita seputar kehidupan sekolah yang seharusnya sangat masuk akal. Terkadang kita sebagai perempuan juga merasa bahwa komik shojo hanya bermodalkan cewek dengan mata besar dan cowok bishonen saja. Saya kemudian menganalisisnya, mengapa saya bisa tiba-tiba benci pada karakter tokoh dalam komik shojo ya?
Mari kita analisis dari sistem budaya Jepang. Kita tahu semua dari post saya sebelumnya bahwa budaya Jepang adalah budaya patriarkal hampir murni. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang fenomena teater Takarazuka (teater yang semuan pemerannya cewek) versus Kabuki (teater tradisional Jepang yang aktornya cowok semua), saya melihat fenomena gender yang langka di Jepang. Di sana ada budaya yang mengidealkan feminitas falik (phallic feminity). feminitas falik bisa diterjemahkan secara mudahnya adalah kualitas feminin seorang wanita dari sudut pandang laki-laki. Kualitas di sini maksudnya tentu saja kualitas ideal, seperti wanita harus halus, manis, punya perasaan yang peka, romantis, dan sebagainya. Wanita itu harus dan perlu menjadi makhluk bagaikan dewi, penuh pengertian dan bisa menerima tanpa rasa cemburu. Nah, para pengarang manga (atau mangaka) yang tumbuh dalam didikan filosofi feminitas falik seperti itu, mau tidak mau harus membuat komik yang sesuai dengan budaya Jepang. Kalau tidak, pasti komik mereka tidak laku. Apalagi, bukan rahasia umum bila dalam budaya Jepang, komiknya sangat tersegmentasi. Artinya, setiap kalangan diharapkan punya komiknya sendiri-sendiri. Misalnya cewek SMP-SMA bacanya ya shojo manga atau shonen manga, sedangkan yang cowok shonen manga. Ini berbeda dengan Indonesia yang cenderung egalitarian di mana semua bacaan kalau bisa ya bebas adegan panas atau menantang (maaf Mba Ayu Lestari, well I'm not your fan anyway) sehingga bisa dibaca semua kalangan, dari anak SD hingga orang tua, misalnya Siti Nurbaya, Laskar Pelangi (banyak yang mengkritik budaya kita karena hal ini, tapi saya malah sebal dengan pengkritik yang memuja kebebasan keblabasan budaya Barat).
Hal ini tentu saja membuat tokoh utama dalam segmentasi pasar shojo akan bersifat seperti gadis muda yang labil, masih belum tahu apa itu cinta sehingga terkesan bodoh (sebetulnya belum berpengalaman saja), mudah berubah dan gampang bingung. Semua sifat itu sadar tak sadar ada dalam diri remaja, baik perempuan atau laki-laki. Hanya saja sifat seperti itu lebih diekspos di dalam shojo-manga daripada shonen manga misalnya. Hal ini membuat kita yang membaca menjadi sebal, padahal notabene itulah yang kita rasakan waktu kita remaja.
Faktor lain mengapa kita bisa sebal dengan tokoh utama shojo lebih disebabkan pada fakta bahwa ada perbedaan budaya gender dalam komik tersebut. Kita yang dibesarkan dalam budaya Bilateral egalitarian di mana melihat cewek dan cowok itu sama (yah, ngga cuma cewek yang perlu sempurna, cowok juga perlu menjadi sempurna) tidak mungkin begitu saja menerima konsep feminitas falik dalam shojo manga. Misalnya saya yang sebal dengan ketergantungan tokoh cewek di dalam komik shojo, tentu saja akan berkomentar, "Duuuh, mbok mandiri gitu looh! perbaiki dirimu dulu!"
Hal ini disebabkan tentu saja karena budaya Indonesia (terutama budaya Jawa, Sunda), berbeda dengan budaya Jepang dan Asia lainnya. Budaya Jawa misalnya sejak jaman baheula sudah melihat bahwa posisi laki-laki dan perempuan sama, yang penting adalah bakat dan kepandaiannya. Wanita Jawa juga lebih merdeka daripada wanita Asia lainnya. Sejak dahulu jaman Borobudur belum berdiri, wanita Jawa terkenal karena memenuhi pasar-pasar dan dikenal sebagai pilar ekonomi keluarga. Kemandirian ini berbeda dengan wanita Asia lainnya. kalau belum percaya, coba nonton film Jepang jamn samurai, jarang ada wanita yang berjualan kalau tidak ditemani suami atau pelayan. Sedangkan wanita Jawa sudah bisa berlalu lalang di pasar tanpa mereka. Melihat perbedaan budaya ini, kita yang tidak biasa melihat wanita yang tidak mandiri menjadi kesal sendiri dengan nilai-nilai dalam diri kita. Tapi ada unsur iri alias siriknya juga. Pada dasarnya semua wanita ingin dimengerti (promosi lagu Ada Band..hahahaha), sehingga mungkin kita kagum dan sedikit iri pada nasib baik si tokoh utama dalam shojo komik yang bisa dilindungi dan disayangi oleh si tokoh bishonen. Kita juga ingin memiliki kekasih yang sekeren dan sepengertian tokoh dalam komik tersebut. Melihat hal tersebut, mari kita pikirkan baik-baik tentang apa yang telah kita persepsikan dan melihat hal ini sebagai pemicu kita untuk membuat karya-karya yang lebih baik. Saya sejujurnya dari kecil sering merasa kurang puas dengan cerita yang saya baca, salah satunya cerita shojo manga. Tapi saya bisa membuat cerita alternatif yang akhirnya menjadi cerita yang benar-benar baru untuk mengimbangi ambisi saya yang tak tersalurkan dari komik atau cerita yang saya baca.

Ok..that's it. Give me your opinion anyway...

Wassalamu'alaikum!

Monday, 8 August 2011

Filosofi Perempuan Feminis Amazon dalam Dunia Patriarkal

FYI : Ugh, judulnya serius amat, padahal saya tidak seserius mas Amat, hehehehe.

Assalamu'alaikum!
mari kita diskusikan semuanya dengan lebih santai. Sesuai judul postan blog saya ini, saya ingin mengajak kepada kita semua yang mengaku feminis, maskulinis atau apa lah untuk merenungi semua ini. Saya hanya seorang gadis yang menyukai sosiologi, bukan pakar, hanya orang yang iseng (weleh) dan bukan pula orang yang naif.
Kata-katanya (katanya situs ini nih) laki-laki dan perempuan memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat dunia. Katanya juga lelaki berkomunikasi didasarkan motif memenangkan pembicaraan, kalau perempuan memahami perasaan lawan bicara. Nah lo! Yah, bisa dikatakan kalau laki-laki dan perempuan punya persepsi dan paradigama tersendiri karena kita-kita ini (laki-laki dan perempuan) memiliki kuantitas sel yang berbeda. Aku juga nggak begitu ngeh, soalnya dari dulu-dulu aku cuma tahu kalau perkembangan atau proses perkembangan-lah yang membuat otak laki-laki dan perempuan berbeda. Ceritanya sih si Buku Psikologi Perkembangan jaman baheula, kalau otak manusia laki-laki (emang ada hewan laki-laki ya, Tin?) berkembang pada bagian yang memfokuskan perkembangan fisik nya, sedangkan otak perempuan memfokuskan pada perkembangan kemampuan verbal alias kemampuan berbicaranya. Makanya ga salah kalau ibu-ibu sering dibikin pusing dengan ulah anak cowok yang sibuk berkelahi atau anak perempuan yang cerewet minta disisirin rambutnya, karena itu memang kodratnya. Nah, mungkin diantara pembaca (emang ada, Tin?) bertanya, emang ada hubungannya dengan filosofi lelaki dan filosofi perempuan?
Jawabannya, ya jelas laaah!
OK, ayo kita serius! (mengerutkan dahi tanda serius). Mari kita melihat peradaban yang dibentuk oleh para lelaki di mana hegemoni budayanya dicetuskan oleh lelaki. Nggak usah jauh-jauh deh, kita lihat budayanya orang Amerika atau Jepang (bagi Anda yang suka anime, novelnya Eiji Yoshikawa atau Oshin). Budaya Amerika dan Jepang adalah budaya patriarkal murni. Dari jaman Pak George Washington menjadi presiden hingga jaman apel Washington masuk Indonesia so pasti presidennya cowok dan perempuan baru boleh memilih setelah tahun 1920. Acara MTV yang notabene diproduseri oleh orang Amerika yang dibesarkan dalam alam patriarkal selalu menampilkan imej atau visualisasi 'dominasi'. Kita melihat rapper cowok mengumpat merendahkan teman laki-lakinya atau bahkan pacarnya.Sistem kehidupan seperti sistem pernikahan. agama, sistem ekonomi, pasti ada unsur peringkatnya. Ada yang menjadi atasan dan bawahan (yang dalam paradigma Marxist kita sebut sebagai pemilik modal vs pekerja). Pokoknya filosofi lelaki adalah DOMINASI (gak usah ditebelin, dah pakai huruf kapital semua). Kalau di Jepang jaman samurai dulu dan jaman Sengoku, wanita bahkan tidak boleh keluar, boro-boro jualan di pasar seperti wanita Jawa jaman itu juga. Lelaki bahkan menganggap bahwa hubungan cinta antar lelaki lebih tinggi hakikatnya daripada cinta heteroseksual (baca ini) dan maskulinitas adalah kualitas yang sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa lelaki suka menjadi lebih tinggi atau menjadi atasan, karena itu sering melihat perempuan sebagai bawahan bahkan barang kepemilikan lelaki (kenyataan bro!). Hal ini juga terkait dengan kesukaan lelaki terhadap barang fisik, penampilan visual dan lain-lain, karenanya filosofi cowok pun ketika dewasa akan sangat terpengaruh pada tahapan perkembangan yang telah aku (atau eike..) jelaskan tadi.
Sekarang kita lihat filosofi perempuan melalui matriarki. Matriarki adalah sistem di mana semua tokoh yang memimpin adalah perempuan (ini versi wikipedia alias versi Baratnyo). ya bisa dibilang patriarki tapi semua pelaku utamanya cewek lah! Presiden sampai ketua RTnya cewek, yang punya harta warisan cewek, cewek juga boleh punya suami banyak, cewek yang cari uang, cowok di rumah masak, nyuci dan nyapu. (Wakakakaka....emang kita makhluk gila dominasi pa?). Ini adalah matriarki katanya orang-orang yang terpengaruh budaya patriarkal seperti (maaf lho... para pemikir feminis ekstrim Amazon).
Eh-eh, jangan salah... matriarki bukan seperti patriarki loh! Secara, kami bukan cowok (saya mewakili gender dan seks saya) yang suka main dominasi aja. Di dunia moderen sekarang ini, matriarki memang jarang ditemukan, tapi kita tahu bahwa teman-teman kita yang merupakan suku Minangkabau adalah contoh nyata masayarakat bersistem matriarki. Berbeda dengan imej 'matriarki' Barat (baca di versi wikipedianya, walalupun saya sangat tidak setuju dengan matriarki khayalan orang-orang Barat yang patriarkal ini), matriarki di suku Minangkabau benar-benar mencerminkan karakter perempuan yang egalitarian, non-dominasi tapi berbasis kemitraan dan juga mengidolakan tokoh ibu. Laki-laki boleh jadi laki-laki yang bebas mengelana dan menjadi dirinya sendiri sesuai karakter laki-laki yang memuja kemerdekaan jiwa. Perempuan yang biasanya rumahan, tentu saja ada di rumah, mengatur kegiatan ekonomi keluarga, dan punya hak untuk kepemilikan rumah dan warisan. Ini adalah cerminan dan contoh nyata bagaimana bila wanita dengan karakter kewanitaannya memimpin sebuah masyarakat. Untuk lebih jelasnya baca di sini atau cari di buku Antropologi untuk SMA.
Kembali ke topik utama, setelah membaca banyak membaca dan menelaah kembali, ada baiknya Anda-Anda yang feminis tapi belum tahu tentang diri Anda sendiri sebagai perempuan (bila Anda perempuan) dan masih berkutat pada utopia matriarki versi pikiran patriarkal, marilah segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar, jalan kewanitaan yang luhur mulia. Mari kita adakan pembenahan dunia kita yang 80% telah menjadi patriarkal dengan gerilya metode damai, seperti para pendiri masyarakat Matriarki. Bukannya karena kita lebih lemah, tapi karena cara damai lebih baik (dan lebih cewek gitu loh! Kita bukan laki-laki yang suka berperang demi dominasi). Tidak perlu kita ngaya membuat negara di mana semuanya cewek tokohnya. Kita bisa memulainya dari suami Anda. Cobalah bersikap lebih 'perempuan' dengan berpikir bebas, non-dominatif. Nggak usah berdebat, lelaki khan suka menang, jadi ya udah kita mengalah aja...mengalah untuk menang. Baru ketika mereka lagi klepek-klepek dengan kemenangannya, kita serang...hahahahahaha (taktik cewe banget...)

OK, silakan kalau ada yang mau berkomentar...hehehehe. Saya dah keabisan ide.

Wassalamu'alaikum :))