Sunday, 22 January 2012

Persepsi Perempuan dan Laki-laki dalam budaya Jawa: Srikandhi dan Arjuna

Assalamu'alaikum wr, wb,



Hari ini aku ingin uneg-uneg lagi, mengingat aku mau ngeposin komentar seorang wanita yang memasukkan Srikandhi dalam transgender (kalau dalam versi Mahabharata asli dia emang gitu). Entah mengapa karena ga berhasil jadi sebel terus aku ingin membuat analisis tentang penokohan wayang dalam persepsi sosiologisku sebagai wanita Jawa yang tahu-tahu sedikit dengan budaya lain. Yah, lagi-lagi pemikiran anehku.

Srikandhi
Karena aku cewek, maka yang pertama akan aku bahas adalah Srikandi. Srikandi yang entah mengapa kalau di wayang Jawa digambarkan sebagai wanita berwajah hitam (mungkin karena dia reinkarnasi cewek yang ditolak cintanya oleh Bisma, dia digambarkan sebagai wanita yang engga secantik istri-istri Arjuna yang lain) tapi beberapa wayang yang lain mennggambarkannya dengan tampilan yang cantik, sesuai dengan persepsi orang Jawa kalau dia cantik (ga thau deh....). Walaupun penggambaran pertamanya sangat ga sesuai dengan persepsi orang Jawa tentang bagaimana wanita yang cantik itu (kulit kuning langsat, jalannya bagai putri Solo), tapi Srikandi sering dipersepsikan wanita Indonesia masa kini sebagai wanita yang ideal, melebihi tokoh pewayangan lain, bahkan lebih populer daripada Drupadi. Coba tanya sama anak sekolah apa mereka tahu Srikandi, pasti mereka tahu lah, tapi kalu Drupadi jarang ada yang tahu.

versi moderen Srikandi (kaya valkyrie kan??)

Srikandhi adalah wanita yang cantik (mungkin kaya idolaku dek Rihanna, gyahahaha...mulai deh khayalannya...), pandai bertarung dan cerdik. Dia adalah murid Arjuna dan sekaligus istrinya. Dia sangat maskulin, dengan sifat yang entah mengapa aku merasa sangat mirip dengan sifat para Valkyrie (mulai lagi dah khayalannya) yang sangat keren. Justru kemaskulinannya itulah yang membuat para wanita moderen terkagum-kagum pada Srikandi, Sejujurnya aku juga suka sama Srikandi, tapi dalam pikiranku dia lebih mirip dengan valkyrie dengan sifat pendendam, tahu bagaimana menahan rasa sakit dan bisa marah, berbeda dengan wanita pewayanagn lainnya. Ini mengingatkanku pada wanita-wanita legenda macam Loro Jonggrang dan Roro Mendut yang berani melawan laki-laki secara langsung (tanpa bantuan cowok) dengan cara kewanitaan mereka. Srikandi bagaimana pun memberikan jawaban bagaimana nenek moyangku melihat wanita ideal. Berbeda dengan orang China dan Jepang yang memuja kecantikan feminitas falik yang super pasif dan terkesan 'kemayu', lemah gemulai, wanita Jawa dituntut mandiri sejak dahulu kala. (kayanya lebih awal dari jaman Dyah Gitarja dan Ratu Sima deh)` karena adanya persepsi orang Jawa yang melihat hak laki-laki dan wanita sama, hanya tugasnya yang berbeda. Dari jaman aku kecil dulu, ibuku (dan ibu teman-temanku yang dari suku Jawa) selalu menanamkan bahwa wanita harus mandiri. Kata ibuku, karena aku wanita makanya aku harus lebih kuat, lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada laki-laki. Alasannya sih gampang, kalau suatu saat nanti suamimu meninggalkanmu (entah karena cerai atau meninggal), kita bisa tetap 'hidup' dan tidak mengeluh. Waktu aku tanya teman-temanku, ternyata mereka juga punya pengalaman yang sama. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Srikandi adalah gambaran ideal wanita Jawa. Walaupun ia keren seperti itu, tapi ia adalah pribadi yang patuh pada suaminya (yang keren banget juga) dan tahu diri terhadap takdirnya sebagai seorang wanita.

Arjuna
Baiklah, kalau kita sudah  membahas bagimana wanita ideal dalam budaya Jawa, kita akan melihat laki-laki dalm budaya Jawa. Arjuna adalah figur yang selama ini digadang-gadang sebagai perwujudan lelaki ideal dalam budaya Jawa. Ia lebih cantik dan lemah gemulai daripada wanita, pecinta wanita tapi tak takut pertapaan, dan tingkah lakunya seanggun wanita. kata ibuku tokoh Arjuna termasuk tokoh yang rumit dijelaskan dalam konsep moderen. Ia lelaki yang sangat ksatria dan sangat cantik pada saat yang bersamaan. Entah mengapa melihat kriteria di atas aku malah jadi ingat dengan Uesugi Kenshin dan Toshizo Hijikata deh, yang keduanya digambarkan seperti itu (cuma mereka bukan pecinta wanita bagaikan Arjuna). Dia sangat feminin. penggambarannya pun sangat feminin. Dia idealis, penyayang (sifat ini juga sering membuatnya ragu-ragu dalam mengeksekusi pihak Kurawa) dan lemah gemulai. Sifat inilah yang membuatnya dicintai oleh banyak  wanita. yah, aku juga bakal cinta ma cowok ini kalau dia nyata lah. Cuma dia hanya ada di Mahabharata. Yang lainnya mungkin sangat tipikal Jawa, dia memahami wanita dan lembut terhadap wanita, tak terkecuali pada Srikandhi yang kurang cantik dan cewek dibanding istri-istri lainnya).

Kalau disimpulkan dari deskripsi dua tokoh pewayangan tersebut, bisa kita katakan bahwa perempuan ideal orang Jawa adalah wanita yang bisa menerima kemaskulinannya dan lelaki idealnya adalah lelaki yang tak takut menjadi seindah dan selembut wanita. Budaya ini juga membuatku membandingkan persepsi gender dalam budaya lain dengan persepsi Jawa. kalau dibandingkan budaya lain, persepsi jender dalam budaya Jawa lebih seimbang. Orang Jawa menyukai orang yang bisa menyeimbangkan elemen feminin dan maskulinnya.

So, for us, it's OK being a effeminate man as long as you are chivalrious and woman-loving man (not a transgender), and It's Ok to a masculine woman but remember your role as mother and wife. 
I think I like that perception :)