Sunday, 4 November 2012

Sisi gelap Gay-Affirmative Counseling


Ini adalah opini pribadi seorang wanita. Saya bukan psikolog, tapi saya punya otak dan pengalaman. It’s up to you lah. Silakan kalau mau percaya pada APA (American Psychological Association). It’s none of my business.


Gay Affirmative counseling, kedengarannya bagus untuk para gay. Tapi entah mengapa, ketika saya membaca (saya tak pernah mengalaminya, karena saya bukan gay dan bukan lesbian, Sexual Orientation and Psychoanalysis (karya siapa saya lupa). Saya heteroseksual) membaca buku laporannya, saya kok malah protes yah. Ini adalah komentar sebuah kasus yang dipecahkan dengan model Psikoanalisa Freudian dan gay-affirmative counseling. Tapi, karena saya Jungian murni (tentunya dengan persepsi yang mengacu pada teori aslinya, tanpa embel-embel gay-affirmative, sorry my lesbians pals!)

Salah satu kasus yang disampaikan dalam buku tersebut adalah kasus ibu JE (ibu karena umurnya sudah 80 thn) yang didiagnosa oleh si psikoanalis sebagai seorang lesbian yang terkena homophobia. Dia dibilang seperti itu karena begitu malu menyembunyikan kenyataan dia pernah punya hubungan dengan seorang wanita bernama M. Selain itu JE  punya hubungan ambigu dengan ibunya. Secara singkatnya, ibunya adalah wanita aseksual yang membenci lelaki dan melarang JE berhubungan seks dengan siapapun, dan cenderung erotophobik. Tetapi sang ibu juga nyentrik. Dia sering menyandarkan segala beban psikologisnya pada JE, bahkan di berbagai kesempatan seperti menganggap putrinya tersebut adalah pengganti suaminya (ayah JE) yang bercerai dengannya. Ketika JE berusaha berhubungan dengan lelaki (dan M, yang notabene seorang perempuan), ibu JE berusaha ‘menghalang-halangi’. Begitulah menurut pengakuan JE. Dari ceritanya, saya langsung bisa beranggapan bahwa hubungan disfungsional antara JE dan ibunya, serta ketiadaan tokoh lelaki dalam hidup JE, menjadikannya bingung, terutama dengan seksualitasnya. Kebingungan itu entah mengapa diartikan si psikoanalis sebagai ‘homophobia’. Saya tak habis pikir bagaimana dia bisa mendiagnosa seperti itu. Bahkan seorang heteroseksual pun pasti bingung bila diperlakukan ibunya seperti itu. Mau berhubungan dengan orang lain saja tak boleh, seorang yang tak didiskriminasi pun bisa mengalami gangguan kepribadian bila diasuh dengan ibu seperti ini, ibu yang double-bind dalam komunikasi. Untungnya JE masih bis aberpikir secara jernih, jadi dia mengalami suatu kebencian saja, bukan BDD atau skizofrenia.
Yang membuat saya geregetan juga adalah, begitu enggak sensitifnya si psikoanalis. Sudah tahu dia seorang homoseksual yang baru coming out, mengapa ia menggunakan teknik konfrontasi?? Itu kan sama sekali tidak berhati-hati terhadap perasaan klien. Walaupun si psikoanalis ini Ph.D, saya gak akan ragu bilang kalau dia tuh stupid. Yah, gimana engga, sudah lama jadi psikoterapis kok ya ngga sensitive gitu loh!
Tapi bisa dimengerti lah, Freud sendiri orangnya juga gitu (sorry, Mr. Sigmund).  Seteah itu, secara singkat sang penulsi/ psikoanalis mengatakan bahwa dalam beberapa sesi, si JE bisa menghilangkan homofobianya.

Saya sejujurnya tidak puas, karena baru kali ini saya mereview gay-affirmative counseling, tapi kok dikit banget detail kasusnya. Saya jadi curiga. Ini beneran melakukan terapi atau cuma terapi pain-killer ajah sih??

Menurut saya kelemahan cara konseling/ psikoterapinya adalah :

1.     Pemilihan teknik yang sangat kurang tepat. Untuk orang-orang yang memang pernah mengalami diskriminasi (baik yang obyektif ataupun yang hanya dipersepsi), lebih baik gunakan teknik refleksi dan empati. Dengan merefleksi terus-menerus, orang yang sensitive saya yakin akan lebih cepat menyadari kekurangan dalam pemikirannya. Misalnya JE akan mulai menyadari kebenciannya terhadap seks itu irasional. Tapi teknik refleksi adalah teknik Rogerian, jadi ya so pasti psikoanalisnya ga mau lah pakai teknik ini.
2.     Kurang banyak memberikan informasi tentang gejala-gejala kejiwaan. Masa’ begitu saja di diagnose ‘homofobia”?? Padahal yang paling utama adalah memperbaiki konstruksi persepsi JE terhadap hubungannya dengan ibunya. Caranya, cobalah dengan teknik empty chairnya Analisis Transaksional, atau teknik reenactment-nya Gestalt. Atau kalau saya, saya akan menggunakan teknik Art Therapy ala Jung. Buat dia mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang ibunya. Setelah itu dorong ia untuk memaafkan sang ibu dengan mengingat segala kebaikan ibunya. Kalau masih belum bisa, konseling bisa diteruskan di sesi-sesi selanjutnya dengan tujuan menghilangkan rasa marah pada ibunya.
3.     Memberikan pemahaman tentang seksualitas yang lebih luas, tentang mengapa ia tertarik pada M, yang ia ceritakan memiliki kualitas-kualitas yang ia idamkan ada dalam dirinya. Berikan contoh-contoh kasus seperti filosofi Sufistik tentang bersatu dengan sesuatu yang kita ‘cintai’ sebenarnya adalah ekspresi keinginan diri untuk menjadi seperti dirinya.
4.     Berikan pilihan yang lebih banyak tentang bagaimana ia menghadapi erotofobianya. Dengan begitu dia akan lebih terbuka tentang persepsinya terhadap seks. Fobia yang diturunkan dari orang tua dan anak itu biasa ditemukan. Banyak kok contohnya.
5.     Berikan pelatihan kognitif, dengan cara ketika ia muncul rasa sebal terhadap seks, gunakan affirmasi dalam dirinya bahwa “seks bukan hal yang menakutkan”, “saya tidak takut pada seks’.

Dengan cara seperti itu, JE bisa menghadapi kenyataan, daripada hanya bilang I was homophobic, lebih baik bilang bahwa I was erotophobic. Masalah orientasi seksual, saya yakin JE akan lebih jernih persepsinya bila dia sudah mulai melepaskan kebencian dan erotophobianya :)

Biasanya, seorang homoseksual dengan ego-dystonic homosexuality akan memilih menjadi heteroseksual atau aseksual setelah terapi. Yah, tapi kalau diterapi dengan cara yang kurang tepat yang jadinya gitu deh. :)


Sori-dori-mari to Freud's fans :D  

Tuesday, 21 February 2012

Tiga Gender dalam Islam : Lelaki, Perempuan dan Intersex

Melihat berita ini, dan melihat dorama IS, saya akhirnya bisa menjelaskan dengan lebih 'visual' tentang intersex. Tapi sebelumnya mungkin lebih baik kita melihat siapa itu laki-laki dan siapa itu perempuan.

Laki-laki adalah gender yang disematkan pada individu yang memiliki kromosom XY, mengalami pertumbuhan biologis dan psikologis sebagai seorang laki-laki (pernah mimpi basah dengan seorang wanita), dan memiliki alat kelamin laki-laki. Gender ini adalah gender yang dilihat sebagai 'penguasa' pada sistem dunia patriarkal.  nah ini adalah definisi laki-laki menurut ketentuan universal (non-agamis).

Lalu, siapa perempuan? Perempuan adalah gender yang disematkan dalam individu yang memiliki kromoseom XX, mengalami pertumbuhan seksual sekunder sebagai seorang wanita,  dan memiliki alat kelamin wanita. Persepsinya pun wanita.

Dan kemudian para ilmuwan pun bertanya, lalu orang yang memiliki hormon XXY atau hormon XY tapi tidak punya alat kelamin lelaki disebut apa? Mereka adalah intersex. 

Intersex dalam dunia Barat sering dikesampingkan. Tidak seperti fenomena homoseksualisme (baik laki-laki maupun perempuan) yang sudah lumrah sejak jaman Yunani Kuno, intersex sering menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Barat. Dan kita harus tahu bahwa keberadaannya perlu diakui karena fakta biologis telah memberikan seperti itu. 
Namun terdapat miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang intersex. Ada kecenderungan yang bilang bahwa intersex yang secara alami disamaratakan dengan banci atau transeksual. Bahkan ada yang menganggap kaum homoseksual sebagai bagian dari intersex. Ini semakin mengaburkan eksisitensi dari intersex sejati karena transeksual dan kaum homoseksual tidak mengalami kesulitan dan beban psikologis yang sama dengan intersex. 

Homoseksual misalnya, tak perlu bingung tentang identitas gendernya. Mereka tahu benar bahwa diri mereka lelaki atau pun mereka perempuan. Hanya orientasi seks mereka adalah menyukai sesama jenis. Transeksual pun ada dua macam, yaitu transeksual yang sebenarnya hanya homoseksual yang berbaju perempuan dan transeksual yang memang mengalami GID (Gender Identity Disorder/ Kelainan Identitas Jender). Homoseksual yang berbaju perempuan misalnya tak punya kesulitan berarti dalam melihat identitas gendernya. Dia tahu benar dia adalah lelaki, hanya saja ia ingin berhubungan seks dengan lelaki. Sedangkan individu yang mengalami GID, mereka perlu dibantu karena sangat bingung dengan dirinya.

Lain lagi dengan intersex, dalam serie IS di atas misalnya, Haru dan Miwako harus bergelut dengan identitasnya sebagai intersex. Haru yang semenjak kecil dibesarkan sebagai lelaki tetapi ketika berusia 15 tahun haru mengahdapai kenyataan bahwa ia seorang wanita dengan munculnya siklus haid. Sedangkan Miwako yang dibesarkan sebagai perempuan malah mengalami pertumbuhan genital lelaki pada akhirnya (ia mengalami keterlambatan pertumbuhan alat kelamin lelaki). Mereka berdua harus menghadapi kenyataan, mispersepsi tentang gender mereka dan juga sikap kedua keluarga mereka dalam menghadapi fenomena interseksualitas itu. Miwako bahkan sempat jatuh hati pada Haru walaupun mereka berdua sama-sama mengenakan baju siswi (yang merupakan identitas gender). Setting atau latar dari serial ini adalah Jepang, sebuah negara dengan budaya yang sangat ketat dalam membedakan identitas gender (tetapi pernah menajdi tempat permisif untuk budaya homosekualisme lelaki). 

Fenomena ini juga menjadi tinjauan yang miris. Kalau pada jaman Yunani, misalnya ada individu yang terlahir dengan dua alat kelamin, ia akan menjadi tontonan. Bahkan di Amerika ada yang memutuskan menjadi bintang sirkus karena susah mencari pekerjaan sebagai seorang intersex. Kalau kita bandingkan, budaya-budaya tersebuat OK-OK saja dengan homoseksualisme, tapi bersikap membutakan diri dengan fenomena intersex. Agama datang dan akhirnya memberikan pencerahan tentang itu semua. 

Dalam Islam, keberadaan intersex diakui. Bahkan ada hadist yang secara gamblang menjelaskan tentang fenomena ini. Ini adalah kutipan dari situs ini tentang intersex : 
 Khuntsa
Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir, yaitu kelamin laki-laki dan kelamin wanita. Tapi kejadiannya sangat jarang terjadi, walau tetap dituliskan oleh para ulama dalam kitab fiqih mereka terdahulu. Artinya kasusnya bukan sama sekali tidak ada, hanya jarang sekali terjadi.
Para ulama menuliskan ada dua jenis khuntsa. Pertama Khuntsa biasa dan kedua khuntsa musykil.
Khutnsa biasa adalah seorang yang lahir dalam keadaan punya dua alat kelamin sekaligus. Namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan dan lebih berfungsi. Sedangkan alat kelamin yang satunya kurang dominan, walaupun mungkin saja sedikit berfungsi.
Adapun khuntsa musykil, sesuai namanya, memang musykilah. Lantaran dia terlahir dengan dua alat kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Tapi dari sekian banyak khuntsa, yang sampai ke level musykil ini nyaris hampir tidak pernah ada.
Khuntsa pada hakikatnya bukan banci, karena meski dia punya dua alat kelamin, namun salah satunya lebih dominan. Misalnya lebih dominan alat kelamin laki-laki. Meski punya alat kelamin perempuan, namun dia malah tidak mau berpenampilan sebagai perempuan. Penampilannya tetap seperti laki-laki seperti biasa.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas radhyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang bayi yang lahir dengan dua jenis kelamin, bagaimana urusan pembagian warisannya. Beliau SAW menjawab, "Dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana kencingnya." (HR Al-Baihaqi)

Maksudnya, kalau dia kencing lewat kelamin laki-lakinya, maka dia dianggap laki-laki. Sebaliknya, kalau kencing lewat kelamin perempuannya, maka dia dianggap sebagai perempuan. Ini penting, karena pembagian harta warisan akan berbeda antara anak laki dengan anak perempuan.
Namun karena adanya dua kelamin secara alami ini, para ulama menetapan bahwa khuntsa tidak dibenarkan menjadi imam buat jamaah yang laki-laki. Juga tidak dibenarkan jadi imam buat sesama khuntsa.

Sudah jelas bahwa dalam Islam intersex diakui, tapi tidak dengan perbuatan homoseksual. Maka dalam budaya Islam, kita menggunakan budaya tiga gender, buka dwi-seksual seperti Barat. Budaya tiga gender memberikan persepsi menyeluruh tentang identitas diri, hukum politik, fungsi seorang individu dalam masyarakat dan lain-lain. Budaya dwi-seksualisme (heteroseksual dan homoseksual) mempunyai efek besar dalam masyarakat, seperti yang sudah saya postkan terdahulu. 

OK, Silakan merenung! 

Sunday, 22 January 2012

Persepsi Perempuan dan Laki-laki dalam budaya Jawa: Srikandhi dan Arjuna

Assalamu'alaikum wr, wb,



Hari ini aku ingin uneg-uneg lagi, mengingat aku mau ngeposin komentar seorang wanita yang memasukkan Srikandhi dalam transgender (kalau dalam versi Mahabharata asli dia emang gitu). Entah mengapa karena ga berhasil jadi sebel terus aku ingin membuat analisis tentang penokohan wayang dalam persepsi sosiologisku sebagai wanita Jawa yang tahu-tahu sedikit dengan budaya lain. Yah, lagi-lagi pemikiran anehku.

Srikandhi
Karena aku cewek, maka yang pertama akan aku bahas adalah Srikandi. Srikandi yang entah mengapa kalau di wayang Jawa digambarkan sebagai wanita berwajah hitam (mungkin karena dia reinkarnasi cewek yang ditolak cintanya oleh Bisma, dia digambarkan sebagai wanita yang engga secantik istri-istri Arjuna yang lain) tapi beberapa wayang yang lain mennggambarkannya dengan tampilan yang cantik, sesuai dengan persepsi orang Jawa kalau dia cantik (ga thau deh....). Walaupun penggambaran pertamanya sangat ga sesuai dengan persepsi orang Jawa tentang bagaimana wanita yang cantik itu (kulit kuning langsat, jalannya bagai putri Solo), tapi Srikandi sering dipersepsikan wanita Indonesia masa kini sebagai wanita yang ideal, melebihi tokoh pewayangan lain, bahkan lebih populer daripada Drupadi. Coba tanya sama anak sekolah apa mereka tahu Srikandi, pasti mereka tahu lah, tapi kalu Drupadi jarang ada yang tahu.

versi moderen Srikandi (kaya valkyrie kan??)

Srikandhi adalah wanita yang cantik (mungkin kaya idolaku dek Rihanna, gyahahaha...mulai deh khayalannya...), pandai bertarung dan cerdik. Dia adalah murid Arjuna dan sekaligus istrinya. Dia sangat maskulin, dengan sifat yang entah mengapa aku merasa sangat mirip dengan sifat para Valkyrie (mulai lagi dah khayalannya) yang sangat keren. Justru kemaskulinannya itulah yang membuat para wanita moderen terkagum-kagum pada Srikandi, Sejujurnya aku juga suka sama Srikandi, tapi dalam pikiranku dia lebih mirip dengan valkyrie dengan sifat pendendam, tahu bagaimana menahan rasa sakit dan bisa marah, berbeda dengan wanita pewayanagn lainnya. Ini mengingatkanku pada wanita-wanita legenda macam Loro Jonggrang dan Roro Mendut yang berani melawan laki-laki secara langsung (tanpa bantuan cowok) dengan cara kewanitaan mereka. Srikandi bagaimana pun memberikan jawaban bagaimana nenek moyangku melihat wanita ideal. Berbeda dengan orang China dan Jepang yang memuja kecantikan feminitas falik yang super pasif dan terkesan 'kemayu', lemah gemulai, wanita Jawa dituntut mandiri sejak dahulu kala. (kayanya lebih awal dari jaman Dyah Gitarja dan Ratu Sima deh)` karena adanya persepsi orang Jawa yang melihat hak laki-laki dan wanita sama, hanya tugasnya yang berbeda. Dari jaman aku kecil dulu, ibuku (dan ibu teman-temanku yang dari suku Jawa) selalu menanamkan bahwa wanita harus mandiri. Kata ibuku, karena aku wanita makanya aku harus lebih kuat, lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada laki-laki. Alasannya sih gampang, kalau suatu saat nanti suamimu meninggalkanmu (entah karena cerai atau meninggal), kita bisa tetap 'hidup' dan tidak mengeluh. Waktu aku tanya teman-temanku, ternyata mereka juga punya pengalaman yang sama. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Srikandi adalah gambaran ideal wanita Jawa. Walaupun ia keren seperti itu, tapi ia adalah pribadi yang patuh pada suaminya (yang keren banget juga) dan tahu diri terhadap takdirnya sebagai seorang wanita.

Arjuna
Baiklah, kalau kita sudah  membahas bagimana wanita ideal dalam budaya Jawa, kita akan melihat laki-laki dalm budaya Jawa. Arjuna adalah figur yang selama ini digadang-gadang sebagai perwujudan lelaki ideal dalam budaya Jawa. Ia lebih cantik dan lemah gemulai daripada wanita, pecinta wanita tapi tak takut pertapaan, dan tingkah lakunya seanggun wanita. kata ibuku tokoh Arjuna termasuk tokoh yang rumit dijelaskan dalam konsep moderen. Ia lelaki yang sangat ksatria dan sangat cantik pada saat yang bersamaan. Entah mengapa melihat kriteria di atas aku malah jadi ingat dengan Uesugi Kenshin dan Toshizo Hijikata deh, yang keduanya digambarkan seperti itu (cuma mereka bukan pecinta wanita bagaikan Arjuna). Dia sangat feminin. penggambarannya pun sangat feminin. Dia idealis, penyayang (sifat ini juga sering membuatnya ragu-ragu dalam mengeksekusi pihak Kurawa) dan lemah gemulai. Sifat inilah yang membuatnya dicintai oleh banyak  wanita. yah, aku juga bakal cinta ma cowok ini kalau dia nyata lah. Cuma dia hanya ada di Mahabharata. Yang lainnya mungkin sangat tipikal Jawa, dia memahami wanita dan lembut terhadap wanita, tak terkecuali pada Srikandhi yang kurang cantik dan cewek dibanding istri-istri lainnya).

Kalau disimpulkan dari deskripsi dua tokoh pewayangan tersebut, bisa kita katakan bahwa perempuan ideal orang Jawa adalah wanita yang bisa menerima kemaskulinannya dan lelaki idealnya adalah lelaki yang tak takut menjadi seindah dan selembut wanita. Budaya ini juga membuatku membandingkan persepsi gender dalam budaya lain dengan persepsi Jawa. kalau dibandingkan budaya lain, persepsi jender dalam budaya Jawa lebih seimbang. Orang Jawa menyukai orang yang bisa menyeimbangkan elemen feminin dan maskulinnya.

So, for us, it's OK being a effeminate man as long as you are chivalrious and woman-loving man (not a transgender), and It's Ok to a masculine woman but remember your role as mother and wife. 
I think I like that perception :)