Ini adalah opini pribadi seorang wanita.
Saya bukan psikolog, tapi saya punya otak dan pengalaman. It’s up to you lah.
Silakan kalau mau percaya pada APA (American Psychological Association). It’s
none of my business.
Gay Affirmative counseling, kedengarannya
bagus untuk para gay. Tapi entah mengapa, ketika saya membaca (saya tak pernah
mengalaminya, karena saya bukan gay dan bukan lesbian, Sexual Orientation and
Psychoanalysis (karya siapa saya lupa). Saya heteroseksual) membaca buku laporannya,
saya kok malah protes yah. Ini adalah komentar sebuah kasus yang dipecahkan
dengan model Psikoanalisa Freudian dan gay-affirmative counseling. Tapi, karena
saya Jungian murni (tentunya dengan persepsi yang mengacu pada teori aslinya,
tanpa embel-embel gay-affirmative, sorry my lesbians pals!)
Salah satu kasus yang disampaikan dalam
buku tersebut adalah kasus ibu JE (ibu karena umurnya sudah 80 thn) yang
didiagnosa oleh si psikoanalis sebagai seorang lesbian yang terkena homophobia.
Dia dibilang seperti itu karena begitu malu menyembunyikan kenyataan dia pernah
punya hubungan dengan seorang wanita bernama M. Selain itu JE punya hubungan ambigu dengan ibunya. Secara
singkatnya, ibunya adalah wanita aseksual yang membenci lelaki dan melarang JE
berhubungan seks dengan siapapun, dan cenderung erotophobik. Tetapi sang ibu
juga nyentrik. Dia sering menyandarkan segala beban psikologisnya pada JE,
bahkan di berbagai kesempatan seperti menganggap putrinya tersebut adalah
pengganti suaminya (ayah JE) yang bercerai dengannya. Ketika JE berusaha
berhubungan dengan lelaki (dan M, yang notabene seorang perempuan), ibu JE
berusaha ‘menghalang-halangi’. Begitulah menurut pengakuan JE. Dari ceritanya,
saya langsung bisa beranggapan bahwa hubungan disfungsional antara JE dan
ibunya, serta ketiadaan tokoh lelaki dalam hidup JE, menjadikannya bingung,
terutama dengan seksualitasnya. Kebingungan itu entah mengapa diartikan si
psikoanalis sebagai ‘homophobia’. Saya tak habis pikir bagaimana dia bisa
mendiagnosa seperti itu. Bahkan seorang heteroseksual pun pasti bingung bila
diperlakukan ibunya seperti itu. Mau berhubungan dengan orang lain saja tak
boleh, seorang yang tak didiskriminasi pun bisa mengalami gangguan kepribadian
bila diasuh dengan ibu seperti ini, ibu yang double-bind dalam komunikasi.
Untungnya JE masih bis aberpikir secara jernih, jadi dia mengalami suatu
kebencian saja, bukan BDD atau skizofrenia.
Yang membuat saya geregetan juga adalah,
begitu enggak sensitifnya si psikoanalis. Sudah tahu dia seorang homoseksual
yang baru coming out, mengapa ia menggunakan teknik konfrontasi?? Itu kan sama
sekali tidak berhati-hati terhadap perasaan klien. Walaupun si psikoanalis ini
Ph.D, saya gak akan ragu bilang kalau dia tuh stupid. Yah, gimana engga, sudah
lama jadi psikoterapis kok ya ngga sensitive gitu loh!
Tapi bisa dimengerti lah, Freud sendiri
orangnya juga gitu (sorry, Mr. Sigmund). Seteah itu, secara singkat sang penulsi/
psikoanalis mengatakan bahwa dalam beberapa sesi, si JE bisa menghilangkan
homofobianya.
Saya sejujurnya tidak puas, karena baru
kali ini saya mereview gay-affirmative counseling, tapi kok dikit banget detail
kasusnya. Saya jadi curiga. Ini beneran melakukan terapi atau cuma terapi
pain-killer ajah sih??
Menurut saya kelemahan cara konseling/
psikoterapinya adalah :
1. Pemilihan teknik yang sangat kurang tepat.
Untuk orang-orang yang memang pernah mengalami diskriminasi (baik yang obyektif
ataupun yang hanya dipersepsi), lebih baik gunakan teknik refleksi dan empati.
Dengan merefleksi terus-menerus, orang yang sensitive saya yakin akan lebih
cepat menyadari kekurangan dalam pemikirannya. Misalnya JE akan mulai menyadari
kebenciannya terhadap seks itu irasional. Tapi teknik refleksi adalah teknik
Rogerian, jadi ya so pasti psikoanalisnya ga mau lah pakai teknik ini.
2. Kurang banyak memberikan informasi tentang
gejala-gejala kejiwaan. Masa’ begitu saja di diagnose ‘homofobia”?? Padahal
yang paling utama adalah memperbaiki konstruksi persepsi JE terhadap
hubungannya dengan ibunya. Caranya, cobalah dengan teknik empty chairnya
Analisis Transaksional, atau teknik reenactment-nya Gestalt. Atau kalau saya,
saya akan menggunakan teknik Art Therapy ala Jung. Buat dia mengeluarkan semua
uneg-unegnya tentang ibunya. Setelah itu dorong ia untuk memaafkan sang ibu
dengan mengingat segala kebaikan ibunya. Kalau masih belum bisa, konseling bisa
diteruskan di sesi-sesi selanjutnya dengan tujuan menghilangkan rasa marah pada
ibunya.
3. Memberikan pemahaman tentang seksualitas
yang lebih luas, tentang mengapa ia tertarik pada M, yang ia ceritakan memiliki
kualitas-kualitas yang ia idamkan ada dalam dirinya. Berikan contoh-contoh
kasus seperti filosofi Sufistik tentang bersatu dengan sesuatu yang kita ‘cintai’
sebenarnya adalah ekspresi keinginan diri untuk menjadi seperti dirinya.
4. Berikan pilihan yang lebih banyak tentang
bagaimana ia menghadapi erotofobianya. Dengan begitu dia akan lebih terbuka
tentang persepsinya terhadap seks. Fobia yang diturunkan dari orang tua dan
anak itu biasa ditemukan. Banyak kok contohnya.
5. Berikan pelatihan kognitif, dengan cara
ketika ia muncul rasa sebal terhadap seks, gunakan affirmasi dalam dirinya
bahwa “seks bukan hal yang menakutkan”, “saya tidak takut pada seks’.
Dengan cara seperti itu, JE bisa
menghadapi kenyataan, daripada hanya bilang I was homophobic, lebih baik bilang
bahwa I was erotophobic. Masalah orientasi seksual, saya yakin JE akan lebih jernih persepsinya bila dia sudah mulai melepaskan kebencian dan erotophobianya :)
Biasanya, seorang homoseksual dengan ego-dystonic homosexuality akan memilih menjadi heteroseksual atau aseksual setelah terapi. Yah, tapi kalau diterapi dengan cara yang kurang tepat yang jadinya gitu deh. :)
Sori-dori-mari to Freud's fans :D

