Monday, 15 August 2011

Perbedaan Gender dalam Budaya Manga dan Budaya Kita

Assalamu'alaikum!

Sejujurnya, saya ingin segera menulis pikiran saya ini ke dalam blog mumpung masih hangat-hangat tahi ayam (aduuuuh...kenapa perumpamaan itu yang dipakai siiih???)

Saya baru saja membuka forum di mangafox.com (baru sejam yang lalu). Singkatnya forum yang membicarakan tentang tokoh di dalam komik serta pendapat pembaca tentang tokoh komik itu mengusik hati saya. Daripada bikin psuing kalau dipikirkan sendiri, yah lebih baik cuap-cuap di sini. OK, saya ingin mengutak-atik hal yang berhubungan dengan manga, terutama shojo manga. Kita tahu semua, sebagai cewek (cewek Indonesia tentunya) kita sering dibuat kesal oleh tokoh utama (protagonis) dalam shojo manga. Bukan hanya karena kita melihat tokoh utamanya punya banyak sifat yang tidak sreg dengan keinginan kita, tetapi juga karena dia dibuat terlalu sempurna. Saya masih ingat benar ketika saya mulai membenci karakter Noriko dalam komik Dunia Mimpi (Kanata Kara/ From Far Away) yang menurut saya terlalu dipaksakan dengan sifat kawaiinya. Dulu saya belum memahami mengapa saya mulai sebal dengan karakter yang pertamanya saya sukai. Kok tiba-tiba pendapat saya berubah ya? Nah, di bawah ini saya akan menjelaskannya. tentu saja menurut opini saya sendiri.
Sejujurnya saya suka komik straight seperti komik shojo (serial cantik) yang tokoh-tokohnya cutie-pie dan moe abis atau shonen manga yang tokohnya lucu dan punya cita-cita besar. Hanya saja, kenyataannya tokoh utama dalam komik shojo sering bertingkah 'tidak masuk akal' walaupun setting komiknya bercerita seputar kehidupan sekolah yang seharusnya sangat masuk akal. Terkadang kita sebagai perempuan juga merasa bahwa komik shojo hanya bermodalkan cewek dengan mata besar dan cowok bishonen saja. Saya kemudian menganalisisnya, mengapa saya bisa tiba-tiba benci pada karakter tokoh dalam komik shojo ya?
Mari kita analisis dari sistem budaya Jepang. Kita tahu semua dari post saya sebelumnya bahwa budaya Jepang adalah budaya patriarkal hampir murni. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang fenomena teater Takarazuka (teater yang semuan pemerannya cewek) versus Kabuki (teater tradisional Jepang yang aktornya cowok semua), saya melihat fenomena gender yang langka di Jepang. Di sana ada budaya yang mengidealkan feminitas falik (phallic feminity). feminitas falik bisa diterjemahkan secara mudahnya adalah kualitas feminin seorang wanita dari sudut pandang laki-laki. Kualitas di sini maksudnya tentu saja kualitas ideal, seperti wanita harus halus, manis, punya perasaan yang peka, romantis, dan sebagainya. Wanita itu harus dan perlu menjadi makhluk bagaikan dewi, penuh pengertian dan bisa menerima tanpa rasa cemburu. Nah, para pengarang manga (atau mangaka) yang tumbuh dalam didikan filosofi feminitas falik seperti itu, mau tidak mau harus membuat komik yang sesuai dengan budaya Jepang. Kalau tidak, pasti komik mereka tidak laku. Apalagi, bukan rahasia umum bila dalam budaya Jepang, komiknya sangat tersegmentasi. Artinya, setiap kalangan diharapkan punya komiknya sendiri-sendiri. Misalnya cewek SMP-SMA bacanya ya shojo manga atau shonen manga, sedangkan yang cowok shonen manga. Ini berbeda dengan Indonesia yang cenderung egalitarian di mana semua bacaan kalau bisa ya bebas adegan panas atau menantang (maaf Mba Ayu Lestari, well I'm not your fan anyway) sehingga bisa dibaca semua kalangan, dari anak SD hingga orang tua, misalnya Siti Nurbaya, Laskar Pelangi (banyak yang mengkritik budaya kita karena hal ini, tapi saya malah sebal dengan pengkritik yang memuja kebebasan keblabasan budaya Barat).
Hal ini tentu saja membuat tokoh utama dalam segmentasi pasar shojo akan bersifat seperti gadis muda yang labil, masih belum tahu apa itu cinta sehingga terkesan bodoh (sebetulnya belum berpengalaman saja), mudah berubah dan gampang bingung. Semua sifat itu sadar tak sadar ada dalam diri remaja, baik perempuan atau laki-laki. Hanya saja sifat seperti itu lebih diekspos di dalam shojo-manga daripada shonen manga misalnya. Hal ini membuat kita yang membaca menjadi sebal, padahal notabene itulah yang kita rasakan waktu kita remaja.
Faktor lain mengapa kita bisa sebal dengan tokoh utama shojo lebih disebabkan pada fakta bahwa ada perbedaan budaya gender dalam komik tersebut. Kita yang dibesarkan dalam budaya Bilateral egalitarian di mana melihat cewek dan cowok itu sama (yah, ngga cuma cewek yang perlu sempurna, cowok juga perlu menjadi sempurna) tidak mungkin begitu saja menerima konsep feminitas falik dalam shojo manga. Misalnya saya yang sebal dengan ketergantungan tokoh cewek di dalam komik shojo, tentu saja akan berkomentar, "Duuuh, mbok mandiri gitu looh! perbaiki dirimu dulu!"
Hal ini disebabkan tentu saja karena budaya Indonesia (terutama budaya Jawa, Sunda), berbeda dengan budaya Jepang dan Asia lainnya. Budaya Jawa misalnya sejak jaman baheula sudah melihat bahwa posisi laki-laki dan perempuan sama, yang penting adalah bakat dan kepandaiannya. Wanita Jawa juga lebih merdeka daripada wanita Asia lainnya. Sejak dahulu jaman Borobudur belum berdiri, wanita Jawa terkenal karena memenuhi pasar-pasar dan dikenal sebagai pilar ekonomi keluarga. Kemandirian ini berbeda dengan wanita Asia lainnya. kalau belum percaya, coba nonton film Jepang jamn samurai, jarang ada wanita yang berjualan kalau tidak ditemani suami atau pelayan. Sedangkan wanita Jawa sudah bisa berlalu lalang di pasar tanpa mereka. Melihat perbedaan budaya ini, kita yang tidak biasa melihat wanita yang tidak mandiri menjadi kesal sendiri dengan nilai-nilai dalam diri kita. Tapi ada unsur iri alias siriknya juga. Pada dasarnya semua wanita ingin dimengerti (promosi lagu Ada Band..hahahaha), sehingga mungkin kita kagum dan sedikit iri pada nasib baik si tokoh utama dalam shojo komik yang bisa dilindungi dan disayangi oleh si tokoh bishonen. Kita juga ingin memiliki kekasih yang sekeren dan sepengertian tokoh dalam komik tersebut. Melihat hal tersebut, mari kita pikirkan baik-baik tentang apa yang telah kita persepsikan dan melihat hal ini sebagai pemicu kita untuk membuat karya-karya yang lebih baik. Saya sejujurnya dari kecil sering merasa kurang puas dengan cerita yang saya baca, salah satunya cerita shojo manga. Tapi saya bisa membuat cerita alternatif yang akhirnya menjadi cerita yang benar-benar baru untuk mengimbangi ambisi saya yang tak tersalurkan dari komik atau cerita yang saya baca.

Ok..that's it. Give me your opinion anyway...

Wassalamu'alaikum!

Monday, 8 August 2011

Filosofi Perempuan Feminis Amazon dalam Dunia Patriarkal

FYI : Ugh, judulnya serius amat, padahal saya tidak seserius mas Amat, hehehehe.

Assalamu'alaikum!
mari kita diskusikan semuanya dengan lebih santai. Sesuai judul postan blog saya ini, saya ingin mengajak kepada kita semua yang mengaku feminis, maskulinis atau apa lah untuk merenungi semua ini. Saya hanya seorang gadis yang menyukai sosiologi, bukan pakar, hanya orang yang iseng (weleh) dan bukan pula orang yang naif.
Kata-katanya (katanya situs ini nih) laki-laki dan perempuan memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat dunia. Katanya juga lelaki berkomunikasi didasarkan motif memenangkan pembicaraan, kalau perempuan memahami perasaan lawan bicara. Nah lo! Yah, bisa dikatakan kalau laki-laki dan perempuan punya persepsi dan paradigama tersendiri karena kita-kita ini (laki-laki dan perempuan) memiliki kuantitas sel yang berbeda. Aku juga nggak begitu ngeh, soalnya dari dulu-dulu aku cuma tahu kalau perkembangan atau proses perkembangan-lah yang membuat otak laki-laki dan perempuan berbeda. Ceritanya sih si Buku Psikologi Perkembangan jaman baheula, kalau otak manusia laki-laki (emang ada hewan laki-laki ya, Tin?) berkembang pada bagian yang memfokuskan perkembangan fisik nya, sedangkan otak perempuan memfokuskan pada perkembangan kemampuan verbal alias kemampuan berbicaranya. Makanya ga salah kalau ibu-ibu sering dibikin pusing dengan ulah anak cowok yang sibuk berkelahi atau anak perempuan yang cerewet minta disisirin rambutnya, karena itu memang kodratnya. Nah, mungkin diantara pembaca (emang ada, Tin?) bertanya, emang ada hubungannya dengan filosofi lelaki dan filosofi perempuan?
Jawabannya, ya jelas laaah!
OK, ayo kita serius! (mengerutkan dahi tanda serius). Mari kita melihat peradaban yang dibentuk oleh para lelaki di mana hegemoni budayanya dicetuskan oleh lelaki. Nggak usah jauh-jauh deh, kita lihat budayanya orang Amerika atau Jepang (bagi Anda yang suka anime, novelnya Eiji Yoshikawa atau Oshin). Budaya Amerika dan Jepang adalah budaya patriarkal murni. Dari jaman Pak George Washington menjadi presiden hingga jaman apel Washington masuk Indonesia so pasti presidennya cowok dan perempuan baru boleh memilih setelah tahun 1920. Acara MTV yang notabene diproduseri oleh orang Amerika yang dibesarkan dalam alam patriarkal selalu menampilkan imej atau visualisasi 'dominasi'. Kita melihat rapper cowok mengumpat merendahkan teman laki-lakinya atau bahkan pacarnya.Sistem kehidupan seperti sistem pernikahan. agama, sistem ekonomi, pasti ada unsur peringkatnya. Ada yang menjadi atasan dan bawahan (yang dalam paradigma Marxist kita sebut sebagai pemilik modal vs pekerja). Pokoknya filosofi lelaki adalah DOMINASI (gak usah ditebelin, dah pakai huruf kapital semua). Kalau di Jepang jaman samurai dulu dan jaman Sengoku, wanita bahkan tidak boleh keluar, boro-boro jualan di pasar seperti wanita Jawa jaman itu juga. Lelaki bahkan menganggap bahwa hubungan cinta antar lelaki lebih tinggi hakikatnya daripada cinta heteroseksual (baca ini) dan maskulinitas adalah kualitas yang sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa lelaki suka menjadi lebih tinggi atau menjadi atasan, karena itu sering melihat perempuan sebagai bawahan bahkan barang kepemilikan lelaki (kenyataan bro!). Hal ini juga terkait dengan kesukaan lelaki terhadap barang fisik, penampilan visual dan lain-lain, karenanya filosofi cowok pun ketika dewasa akan sangat terpengaruh pada tahapan perkembangan yang telah aku (atau eike..) jelaskan tadi.
Sekarang kita lihat filosofi perempuan melalui matriarki. Matriarki adalah sistem di mana semua tokoh yang memimpin adalah perempuan (ini versi wikipedia alias versi Baratnyo). ya bisa dibilang patriarki tapi semua pelaku utamanya cewek lah! Presiden sampai ketua RTnya cewek, yang punya harta warisan cewek, cewek juga boleh punya suami banyak, cewek yang cari uang, cowok di rumah masak, nyuci dan nyapu. (Wakakakaka....emang kita makhluk gila dominasi pa?). Ini adalah matriarki katanya orang-orang yang terpengaruh budaya patriarkal seperti (maaf lho... para pemikir feminis ekstrim Amazon).
Eh-eh, jangan salah... matriarki bukan seperti patriarki loh! Secara, kami bukan cowok (saya mewakili gender dan seks saya) yang suka main dominasi aja. Di dunia moderen sekarang ini, matriarki memang jarang ditemukan, tapi kita tahu bahwa teman-teman kita yang merupakan suku Minangkabau adalah contoh nyata masayarakat bersistem matriarki. Berbeda dengan imej 'matriarki' Barat (baca di versi wikipedianya, walalupun saya sangat tidak setuju dengan matriarki khayalan orang-orang Barat yang patriarkal ini), matriarki di suku Minangkabau benar-benar mencerminkan karakter perempuan yang egalitarian, non-dominasi tapi berbasis kemitraan dan juga mengidolakan tokoh ibu. Laki-laki boleh jadi laki-laki yang bebas mengelana dan menjadi dirinya sendiri sesuai karakter laki-laki yang memuja kemerdekaan jiwa. Perempuan yang biasanya rumahan, tentu saja ada di rumah, mengatur kegiatan ekonomi keluarga, dan punya hak untuk kepemilikan rumah dan warisan. Ini adalah cerminan dan contoh nyata bagaimana bila wanita dengan karakter kewanitaannya memimpin sebuah masyarakat. Untuk lebih jelasnya baca di sini atau cari di buku Antropologi untuk SMA.
Kembali ke topik utama, setelah membaca banyak membaca dan menelaah kembali, ada baiknya Anda-Anda yang feminis tapi belum tahu tentang diri Anda sendiri sebagai perempuan (bila Anda perempuan) dan masih berkutat pada utopia matriarki versi pikiran patriarkal, marilah segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar, jalan kewanitaan yang luhur mulia. Mari kita adakan pembenahan dunia kita yang 80% telah menjadi patriarkal dengan gerilya metode damai, seperti para pendiri masyarakat Matriarki. Bukannya karena kita lebih lemah, tapi karena cara damai lebih baik (dan lebih cewek gitu loh! Kita bukan laki-laki yang suka berperang demi dominasi). Tidak perlu kita ngaya membuat negara di mana semuanya cewek tokohnya. Kita bisa memulainya dari suami Anda. Cobalah bersikap lebih 'perempuan' dengan berpikir bebas, non-dominatif. Nggak usah berdebat, lelaki khan suka menang, jadi ya udah kita mengalah aja...mengalah untuk menang. Baru ketika mereka lagi klepek-klepek dengan kemenangannya, kita serang...hahahahahaha (taktik cewe banget...)

OK, silakan kalau ada yang mau berkomentar...hehehehe. Saya dah keabisan ide.

Wassalamu'alaikum :))