Sunday, 11 December 2011

Mengapa Gay dan Lesbianisme Dilarang dalam Agama?

Assalamu'alaikum!

FYI : Blog ini pro Islam dan ayat-ayat Al Quran jadi maaf bila tidak berkenan untuk beberapa pihak, terutama para aktivis LGBT, para lesbian dan gay sendiri. Maaf bila kata-kata saya Anda nilai mungkin terlalu menusuk dan Anda nilai diskriminatif. Tapi bagi Anda yang ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu, silakan dibaca ajah :)

Halo-halo! Sebenarnya saya sebagai seorang Muslim paling tidak tahu dan paling penasaran dengan alasan mengapa di kitab-kitab suci agama Samawi ada pelarangan terhadap homoseksualisme.

Saya juga sering tertegun karena beberapa self-report dari kasus psikoterapi juga 'mengiyakan' dan menormalkan homoseksualisme. Katanya, homoseks bukan penyimpangan, itu hanya variasi genetik. Lho kok agama lagi-lagi berseberangan sama sains sih?? Kok bisa?? Emang Tuhan bisa salah?? Apa kita yang salah menafsirkan ayat? Sering sekali terbersit pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saking penasarannya, akhirnya saya memutuskan untuk menilai sendiri dengan melihat argumen baik yang pro maupun yang kontra. Saya mulai dari yang pro dulu. Saya penasaran dengan pendapat para aktivis LGBT tentang gay dan homoseksualisme.Saya mencarinya di internet, tetapi kok sumbernya gak lengkap, akhirnya saya mencari di buku online. Diantara buku-buku yang saya temukan terdapat dua buku, yaitu The Origin of Same-sex Attraction dan Forbidden Friendship. Dari kata-katanya sudah sangat jelas sekali bahwa buku-buku ini sangatlah netral, bahkan cenderung berpihak pada aktivis HAM yang membela laki-laki dan perempuan, feminis dan lain-lain. Melihat dari sisi 'korban' adalah cara yang tepat, begitu saya pikir saat itu. Biasa... logika seorang guru BK. 

Dalam buku pertama (The Origin of SSA), penulis ingin mengungkapkan bahwa homoseksualisme ada di seluruh sejarah manusia. Penulis menjelaskan secara jelas tentang hubungan homoseksual (terutama gay atau homoseksual lelaki) dan budaya homoseksual sebelum budaya Kristiani seperti Yunani Kuno, Romawi, Jepang jaman Sengoku dan Edo serta budaya sufistik Islam (hey! bagi saya itu bukan homoseks...cuma cinta sufistik...penulis ini ngawur banget).
 Baiklah, kembali lagi ke buku ini, buku ini menjelaskan bahwa terdapat budaya yang 'baik-baik' saja dengan budaya homoseksual. Misalnya dalam budaya Yunani, sangatlah bisa bila seorang lelaki kaya memiliki anak muda yang dia jadikan simpanannya, Sang istri sudah paham. Begitu pula dengan keluarga, sudah tahu benar apa yang akan terjadi dengan putrinya bila menikah dengan lelaki kaya. Yah, itu karena dalam budaya Yunani Kuno wanita dianggap belum dewasa, tidak sepadan pengetahuannya dengan lelaki, sehingga suaminya pun 'berpetualang' mencari lelaki yang bisa memuaskan kebutuhan psikologis dengan mencari anak muda yang cerdas dan menarik. Begitu pula dengan para Samurai di jaman Sengoku dan Edo, jauh lebih mengagumi anak muda mungkin daripada istrinya. Cara Samurai 'mencintai' anak muda ini disebut wakashudo atau secara singkat dengan shudo. Contoh konkritnya sangat banyak, yang paling terkenal adalah Oda Nobunaga yang memiliki hubungan seksual dengan Mori Ranmaru dan Takeda Shingen yang memiliki hubungan cinta dengan Kosaka Masanobu. Hubungan mereka disejajarkan dengan ketrampilan ksatria Jepang lainnya seperti kendo, kyudo, judo, dan semua yang akhirannya do (BTW, artinya 'The way of..), yang berasosiasi dengan bushido atau jalan para ksatria. Para istri dan wanita bahkan memuja 'hubungan' ini sebagai kualitas maskulin seorang pria. Yah, hal ini juga terjadi di Yunani Kuno (The Sacred Band of Thebes) dan beberapa budaya kuno lainnya, jadi saya bisa maklum. Yang namanya militer jaman dahulu memang sangat memuja cinta antara prajurit, jadi terkadang jadi lebay alias berlebihan.

Kemudian di bagian lain buku ini penulis menerangkan bahwa cinta sufistik dalam Islam sangat berbau homoseksual. Tapi untuk sesi dan bab yang satu ini, saya sangat tidak setuju, karena seingat saya orang sufi tidak berhubungan seks dengan siapa pun.

Kesimpulan yang dapat ditarik si penulis adalah bahwa sejarah homoseksualisme sudahlah sangat lama dan banyak bangsa melakukannya tanpa adanya bencana yang datang kepada mereka setelah itu. bahkan ia memperkuat argumennya dengan bukti bahwa homoseksualisme (terutama male homosexuality) adalah genetik dan tak bisa diubah. Tapi kemudian saya melihat hidden facts yang disampaikan di kaskus (yang tidak diterbitkan karean dianggap menuai protes di Amerika ) bahwa hanya 5% dari seluruh populasi yang mengaku homoseksual (baik gay maupun lesbian) yang mendapatkan perilaku homseksualnya dari gen. Sedangkan sisanya adalah korban pelecehan seksaul yang tidak sadar pada kenyataan hidupnya (menjadi korban pelecehan). Yah, lagi-lagi ternyata buku ini banyak simpang siurnya, jadi saya agak ragu dengan kebenaran buku ini. Kok banyak yang ngawur ngawur. Saya malah jadi berpikir lain dengan simpulan yang dibuat oleh si pengarang.

Sekarang kita membicarakan buku kedua, yaitu Forbidden Friendship, yang lebih spesifik membahas tentang budaya homoseksualisme dalam masyarakat Florence atau Firenze pada tahun 1600-an. Di dalamnya dibahas tentang 'budaya' homoseksualisme, termasuk budaya yang bila diaplikasikan pada jaman ini bisa dilabeli dengan hubungan seks demi dominasi politik laki-laki kepada laki-laki yang lebih muda. Dalam prakteknya juga diterangkan bahwa cowok-cowok yang melakukan ini adalah lelaki yang maskulin, saking maskulinnya jadi perlu mendominasi lelaki lain dengan seks. Akibatnya banyak lelaki muda yang 'diancam' akan dibunuh bila tidak mau memberikan tubuhnya pada si lelaki pengancam. Bahkan ada banyak nyanyian dan puisi yang memuji budaya ini. Ini terjadi pada lelaki di usia 20-an dan 30-an. Saya jadi bingung, masa' cinta adalah dominasi? Malah rasanya seperti baca komik yaoi yah? Padahal saya sudah punya pikiran kalau yaoi tuh nggak nyata.

Tentang lesbianisme, saya akan menjelaskannya sesuai memori saya karena artikel internet lebih banyak memberikan penjelasan tentang fenomena lesbianisme. Tentang hubungannya dengan homoseksualisme yang dilakukan lelaki, tahukah Anda apa yang terjadi para wanita Lesbian penghuni pulau Lesbo dan para murid Sappho? Salah satu artikel di internet menyebutkan bahwa mereka akhirnya menikah dengan para elit kaya di Yunani dan ada kemungkinan juga harus menjalani hidup diselingkuhi suaminya yang mungkin punya cowok lain (oh..my...girl...). Jadi para orang Yunani Kuno tersebut sepertinya tidak segan-segan melukai harga diri istri mereka dengan melabeli mereka 'bodoh' dan memilih lelaki sebagai pelampiasan hasratnya. Ditambah lagi Plato yang entah mengapa memberikan pernyataan-pernyataan bias tentang wanita, jadi filosofi agung Yunani juga tak terlalu ambil pusing dengan nasib para wanita, atau perasaan mereka. No problem, eh? Hal ini karena budaya Yunani menempatkan lelaki sebagai pemimpin absolut dalam suatu hubungan, maskulinitas adalah kualitas terbaik, dan sebagainya. Yah, lagi-lagi saya harus maklum, biasa...orang-orang yang dibesarkan dalam iklim patriarkal menahun.

OK, sekarang kita beralih ke benua lain. Beralih ke Homoseksualisme yang dilakukan oleh wanita. Lesbianisme di beberapa daerah di Afrika dianggap bukan termasuk hubungan seksual karena hubungan seksual hanya terjadi bila ada *maaf* kelamin pria di dalamnya. Jadi cewek-cewek punya kebebasan yang sangat besar untuk mengeksplorasi hasrat seks mereka di sana. Yah, tahu sendiri kan, kissing, petting, dan lain-lain. Di lain pihak, para pria bila ketahuan berhubungan seks dengan pria lain bisa mendapatkan hukuman mati. Bisa dibilang fenomena ini sangat berkebalikan dengan fenomena di Yunani. Hal ini karena banyak suku di Afrika adalah matrilineal bahkan matriarkal, di mana keputusan tertinggi dipengaruhi oleh keputusan para wanita.

Kesimpulan yang saya ambil dari kedua buku di atas malah berbeda dengan para penulisnya. Beberapa hal yang bisa ditarik, terutama tentang pola kebudayaan homoseksualisme adalah :

  1. Bila ada suatu kelompok gender (laki-laki atau perempuan) yang berkuasa dan mempraktikan budaya homoseksualisme, terlepas dari orientasi seks dari pelaku, akan terjadi diskriminasi antara kelompok gender yang lebih berkuasa kepada gender yang lebih submisif. Misalnya seperti di atas. 
  2. Kultur, baik seni, filosofi, dan segala dampak kehidupan juga sangat berat sebelah dalam menilai gender yang lebih submisif. Misalnya pendapat Plato yang bias dan ambigu tentang wanita, juga pendapat Shingen Takeda (daimyo jaman Sengoku) yang menempatkan hubungan suami istri lebih rendah dari hubungan dua orang prajurit (terutama atasan-bawahan).
  3. Terdapat perbedaan tipis antara definisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seks, misalnya perkosaan (yang kemudian tidak ada istilah perkosaan bila hubungan seks itu dilakukan oleh dua orang lelaki, terlepas dari pihak yang satu merasa dipaksa). Contohnya adalah pada buku Forbidden Friendship tersebut.
Sekarang mari kita berandai-andai. Andai bila ada kesetaraan kekuatan antara dua gender Ynag keduanya mempraktikan budaya homoseksual, apakah yang akan terjadi? 
Ini adalah prakiraan saya, yang terjadi tentu saja (1) akan adanya dua kelompok gender manusia yang kurang bersimpati satu sama lain (tidak tertutup kemungkinan saling berperang atau sama sekali saling tidak mempedulikan), (2) adanya penurunan angka kelahiran manusia (tapi ini bagus menurut ekologi, karena yang kita butuhkan adalah ini) bersamaan dengan meningkatnya seks bebas yang betul-betul bebas (3) seandainya terjadi bencana (mari kita bayangkan bila ini BUKAN kutukan dari Tuhan), orang-orang terlalu sibuk bercinta dan berhubungan intim sehingga lupa melarikan diri seperti pada fenomena kota Pompeii

Bisa dibilang dalam praktiknya, lesbianisme dan homoseksualisme bila pelakunya massal, hanya akan menimbulkan distorsi moral dan kecemburuan antar manusia yang besar. Kecemburuan itu seperti kecemburuan sosial antar jender, antar lelaki dan perempuan dan perempuan dengan lelaki. Bayangkan saja bila ada budaya yang seperti itu, para suami ogah berhubungan badan dengan istrinya (yang sudah pandai), begitupun sebaliknya. Ingat! Wanita lebih punya kefleksibelan dalam memilih orientasi seksnya, bahkan wanita yang heteroseksual bisa jadi lesbian bila 'perlu'.

OPINI SAYA (...sangat subyektif):

Itulah mengapa Tuhan (Allah) menciptakan kita laki-laki dan perempuan agar kita saling mengenal. mengenal di sini bukan hanya dalam seks, tapi juga filosofis dan hubungan psikologis. Apakah kita ingin hidup di jaman di mana perkosaan dari seorang lelaki kepada lelaki lain adalah wajar?? Apakah kita mau kembali ke masa di mana para perempuan harus terima-terima saja bila suaminya selingkuh dengan lelaki lain?? Cobalah memahami ayat-ayat Tuhan. Mungkin bencana yang ditimpakan kaum Luth dengan kaum kita akan berbeda. Kaum Luth langsung bencana lama, kita bencana kemanusiaan. Sejarah telah membuktikan. Mungkin homoseksualisme dalam massa yang kecil tidak kentara, tapi dalam massa yang besar dapat mencederai persepsi kita tentang Hak Asasi Manusia.

Assalamu'alaikum!

Monday, 15 August 2011

Perbedaan Gender dalam Budaya Manga dan Budaya Kita

Assalamu'alaikum!

Sejujurnya, saya ingin segera menulis pikiran saya ini ke dalam blog mumpung masih hangat-hangat tahi ayam (aduuuuh...kenapa perumpamaan itu yang dipakai siiih???)

Saya baru saja membuka forum di mangafox.com (baru sejam yang lalu). Singkatnya forum yang membicarakan tentang tokoh di dalam komik serta pendapat pembaca tentang tokoh komik itu mengusik hati saya. Daripada bikin psuing kalau dipikirkan sendiri, yah lebih baik cuap-cuap di sini. OK, saya ingin mengutak-atik hal yang berhubungan dengan manga, terutama shojo manga. Kita tahu semua, sebagai cewek (cewek Indonesia tentunya) kita sering dibuat kesal oleh tokoh utama (protagonis) dalam shojo manga. Bukan hanya karena kita melihat tokoh utamanya punya banyak sifat yang tidak sreg dengan keinginan kita, tetapi juga karena dia dibuat terlalu sempurna. Saya masih ingat benar ketika saya mulai membenci karakter Noriko dalam komik Dunia Mimpi (Kanata Kara/ From Far Away) yang menurut saya terlalu dipaksakan dengan sifat kawaiinya. Dulu saya belum memahami mengapa saya mulai sebal dengan karakter yang pertamanya saya sukai. Kok tiba-tiba pendapat saya berubah ya? Nah, di bawah ini saya akan menjelaskannya. tentu saja menurut opini saya sendiri.
Sejujurnya saya suka komik straight seperti komik shojo (serial cantik) yang tokoh-tokohnya cutie-pie dan moe abis atau shonen manga yang tokohnya lucu dan punya cita-cita besar. Hanya saja, kenyataannya tokoh utama dalam komik shojo sering bertingkah 'tidak masuk akal' walaupun setting komiknya bercerita seputar kehidupan sekolah yang seharusnya sangat masuk akal. Terkadang kita sebagai perempuan juga merasa bahwa komik shojo hanya bermodalkan cewek dengan mata besar dan cowok bishonen saja. Saya kemudian menganalisisnya, mengapa saya bisa tiba-tiba benci pada karakter tokoh dalam komik shojo ya?
Mari kita analisis dari sistem budaya Jepang. Kita tahu semua dari post saya sebelumnya bahwa budaya Jepang adalah budaya patriarkal hampir murni. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang fenomena teater Takarazuka (teater yang semuan pemerannya cewek) versus Kabuki (teater tradisional Jepang yang aktornya cowok semua), saya melihat fenomena gender yang langka di Jepang. Di sana ada budaya yang mengidealkan feminitas falik (phallic feminity). feminitas falik bisa diterjemahkan secara mudahnya adalah kualitas feminin seorang wanita dari sudut pandang laki-laki. Kualitas di sini maksudnya tentu saja kualitas ideal, seperti wanita harus halus, manis, punya perasaan yang peka, romantis, dan sebagainya. Wanita itu harus dan perlu menjadi makhluk bagaikan dewi, penuh pengertian dan bisa menerima tanpa rasa cemburu. Nah, para pengarang manga (atau mangaka) yang tumbuh dalam didikan filosofi feminitas falik seperti itu, mau tidak mau harus membuat komik yang sesuai dengan budaya Jepang. Kalau tidak, pasti komik mereka tidak laku. Apalagi, bukan rahasia umum bila dalam budaya Jepang, komiknya sangat tersegmentasi. Artinya, setiap kalangan diharapkan punya komiknya sendiri-sendiri. Misalnya cewek SMP-SMA bacanya ya shojo manga atau shonen manga, sedangkan yang cowok shonen manga. Ini berbeda dengan Indonesia yang cenderung egalitarian di mana semua bacaan kalau bisa ya bebas adegan panas atau menantang (maaf Mba Ayu Lestari, well I'm not your fan anyway) sehingga bisa dibaca semua kalangan, dari anak SD hingga orang tua, misalnya Siti Nurbaya, Laskar Pelangi (banyak yang mengkritik budaya kita karena hal ini, tapi saya malah sebal dengan pengkritik yang memuja kebebasan keblabasan budaya Barat).
Hal ini tentu saja membuat tokoh utama dalam segmentasi pasar shojo akan bersifat seperti gadis muda yang labil, masih belum tahu apa itu cinta sehingga terkesan bodoh (sebetulnya belum berpengalaman saja), mudah berubah dan gampang bingung. Semua sifat itu sadar tak sadar ada dalam diri remaja, baik perempuan atau laki-laki. Hanya saja sifat seperti itu lebih diekspos di dalam shojo-manga daripada shonen manga misalnya. Hal ini membuat kita yang membaca menjadi sebal, padahal notabene itulah yang kita rasakan waktu kita remaja.
Faktor lain mengapa kita bisa sebal dengan tokoh utama shojo lebih disebabkan pada fakta bahwa ada perbedaan budaya gender dalam komik tersebut. Kita yang dibesarkan dalam budaya Bilateral egalitarian di mana melihat cewek dan cowok itu sama (yah, ngga cuma cewek yang perlu sempurna, cowok juga perlu menjadi sempurna) tidak mungkin begitu saja menerima konsep feminitas falik dalam shojo manga. Misalnya saya yang sebal dengan ketergantungan tokoh cewek di dalam komik shojo, tentu saja akan berkomentar, "Duuuh, mbok mandiri gitu looh! perbaiki dirimu dulu!"
Hal ini disebabkan tentu saja karena budaya Indonesia (terutama budaya Jawa, Sunda), berbeda dengan budaya Jepang dan Asia lainnya. Budaya Jawa misalnya sejak jaman baheula sudah melihat bahwa posisi laki-laki dan perempuan sama, yang penting adalah bakat dan kepandaiannya. Wanita Jawa juga lebih merdeka daripada wanita Asia lainnya. Sejak dahulu jaman Borobudur belum berdiri, wanita Jawa terkenal karena memenuhi pasar-pasar dan dikenal sebagai pilar ekonomi keluarga. Kemandirian ini berbeda dengan wanita Asia lainnya. kalau belum percaya, coba nonton film Jepang jamn samurai, jarang ada wanita yang berjualan kalau tidak ditemani suami atau pelayan. Sedangkan wanita Jawa sudah bisa berlalu lalang di pasar tanpa mereka. Melihat perbedaan budaya ini, kita yang tidak biasa melihat wanita yang tidak mandiri menjadi kesal sendiri dengan nilai-nilai dalam diri kita. Tapi ada unsur iri alias siriknya juga. Pada dasarnya semua wanita ingin dimengerti (promosi lagu Ada Band..hahahaha), sehingga mungkin kita kagum dan sedikit iri pada nasib baik si tokoh utama dalam shojo komik yang bisa dilindungi dan disayangi oleh si tokoh bishonen. Kita juga ingin memiliki kekasih yang sekeren dan sepengertian tokoh dalam komik tersebut. Melihat hal tersebut, mari kita pikirkan baik-baik tentang apa yang telah kita persepsikan dan melihat hal ini sebagai pemicu kita untuk membuat karya-karya yang lebih baik. Saya sejujurnya dari kecil sering merasa kurang puas dengan cerita yang saya baca, salah satunya cerita shojo manga. Tapi saya bisa membuat cerita alternatif yang akhirnya menjadi cerita yang benar-benar baru untuk mengimbangi ambisi saya yang tak tersalurkan dari komik atau cerita yang saya baca.

Ok..that's it. Give me your opinion anyway...

Wassalamu'alaikum!

Monday, 8 August 2011

Filosofi Perempuan Feminis Amazon dalam Dunia Patriarkal

FYI : Ugh, judulnya serius amat, padahal saya tidak seserius mas Amat, hehehehe.

Assalamu'alaikum!
mari kita diskusikan semuanya dengan lebih santai. Sesuai judul postan blog saya ini, saya ingin mengajak kepada kita semua yang mengaku feminis, maskulinis atau apa lah untuk merenungi semua ini. Saya hanya seorang gadis yang menyukai sosiologi, bukan pakar, hanya orang yang iseng (weleh) dan bukan pula orang yang naif.
Kata-katanya (katanya situs ini nih) laki-laki dan perempuan memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat dunia. Katanya juga lelaki berkomunikasi didasarkan motif memenangkan pembicaraan, kalau perempuan memahami perasaan lawan bicara. Nah lo! Yah, bisa dikatakan kalau laki-laki dan perempuan punya persepsi dan paradigama tersendiri karena kita-kita ini (laki-laki dan perempuan) memiliki kuantitas sel yang berbeda. Aku juga nggak begitu ngeh, soalnya dari dulu-dulu aku cuma tahu kalau perkembangan atau proses perkembangan-lah yang membuat otak laki-laki dan perempuan berbeda. Ceritanya sih si Buku Psikologi Perkembangan jaman baheula, kalau otak manusia laki-laki (emang ada hewan laki-laki ya, Tin?) berkembang pada bagian yang memfokuskan perkembangan fisik nya, sedangkan otak perempuan memfokuskan pada perkembangan kemampuan verbal alias kemampuan berbicaranya. Makanya ga salah kalau ibu-ibu sering dibikin pusing dengan ulah anak cowok yang sibuk berkelahi atau anak perempuan yang cerewet minta disisirin rambutnya, karena itu memang kodratnya. Nah, mungkin diantara pembaca (emang ada, Tin?) bertanya, emang ada hubungannya dengan filosofi lelaki dan filosofi perempuan?
Jawabannya, ya jelas laaah!
OK, ayo kita serius! (mengerutkan dahi tanda serius). Mari kita melihat peradaban yang dibentuk oleh para lelaki di mana hegemoni budayanya dicetuskan oleh lelaki. Nggak usah jauh-jauh deh, kita lihat budayanya orang Amerika atau Jepang (bagi Anda yang suka anime, novelnya Eiji Yoshikawa atau Oshin). Budaya Amerika dan Jepang adalah budaya patriarkal murni. Dari jaman Pak George Washington menjadi presiden hingga jaman apel Washington masuk Indonesia so pasti presidennya cowok dan perempuan baru boleh memilih setelah tahun 1920. Acara MTV yang notabene diproduseri oleh orang Amerika yang dibesarkan dalam alam patriarkal selalu menampilkan imej atau visualisasi 'dominasi'. Kita melihat rapper cowok mengumpat merendahkan teman laki-lakinya atau bahkan pacarnya.Sistem kehidupan seperti sistem pernikahan. agama, sistem ekonomi, pasti ada unsur peringkatnya. Ada yang menjadi atasan dan bawahan (yang dalam paradigma Marxist kita sebut sebagai pemilik modal vs pekerja). Pokoknya filosofi lelaki adalah DOMINASI (gak usah ditebelin, dah pakai huruf kapital semua). Kalau di Jepang jaman samurai dulu dan jaman Sengoku, wanita bahkan tidak boleh keluar, boro-boro jualan di pasar seperti wanita Jawa jaman itu juga. Lelaki bahkan menganggap bahwa hubungan cinta antar lelaki lebih tinggi hakikatnya daripada cinta heteroseksual (baca ini) dan maskulinitas adalah kualitas yang sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa lelaki suka menjadi lebih tinggi atau menjadi atasan, karena itu sering melihat perempuan sebagai bawahan bahkan barang kepemilikan lelaki (kenyataan bro!). Hal ini juga terkait dengan kesukaan lelaki terhadap barang fisik, penampilan visual dan lain-lain, karenanya filosofi cowok pun ketika dewasa akan sangat terpengaruh pada tahapan perkembangan yang telah aku (atau eike..) jelaskan tadi.
Sekarang kita lihat filosofi perempuan melalui matriarki. Matriarki adalah sistem di mana semua tokoh yang memimpin adalah perempuan (ini versi wikipedia alias versi Baratnyo). ya bisa dibilang patriarki tapi semua pelaku utamanya cewek lah! Presiden sampai ketua RTnya cewek, yang punya harta warisan cewek, cewek juga boleh punya suami banyak, cewek yang cari uang, cowok di rumah masak, nyuci dan nyapu. (Wakakakaka....emang kita makhluk gila dominasi pa?). Ini adalah matriarki katanya orang-orang yang terpengaruh budaya patriarkal seperti (maaf lho... para pemikir feminis ekstrim Amazon).
Eh-eh, jangan salah... matriarki bukan seperti patriarki loh! Secara, kami bukan cowok (saya mewakili gender dan seks saya) yang suka main dominasi aja. Di dunia moderen sekarang ini, matriarki memang jarang ditemukan, tapi kita tahu bahwa teman-teman kita yang merupakan suku Minangkabau adalah contoh nyata masayarakat bersistem matriarki. Berbeda dengan imej 'matriarki' Barat (baca di versi wikipedianya, walalupun saya sangat tidak setuju dengan matriarki khayalan orang-orang Barat yang patriarkal ini), matriarki di suku Minangkabau benar-benar mencerminkan karakter perempuan yang egalitarian, non-dominasi tapi berbasis kemitraan dan juga mengidolakan tokoh ibu. Laki-laki boleh jadi laki-laki yang bebas mengelana dan menjadi dirinya sendiri sesuai karakter laki-laki yang memuja kemerdekaan jiwa. Perempuan yang biasanya rumahan, tentu saja ada di rumah, mengatur kegiatan ekonomi keluarga, dan punya hak untuk kepemilikan rumah dan warisan. Ini adalah cerminan dan contoh nyata bagaimana bila wanita dengan karakter kewanitaannya memimpin sebuah masyarakat. Untuk lebih jelasnya baca di sini atau cari di buku Antropologi untuk SMA.
Kembali ke topik utama, setelah membaca banyak membaca dan menelaah kembali, ada baiknya Anda-Anda yang feminis tapi belum tahu tentang diri Anda sendiri sebagai perempuan (bila Anda perempuan) dan masih berkutat pada utopia matriarki versi pikiran patriarkal, marilah segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar, jalan kewanitaan yang luhur mulia. Mari kita adakan pembenahan dunia kita yang 80% telah menjadi patriarkal dengan gerilya metode damai, seperti para pendiri masyarakat Matriarki. Bukannya karena kita lebih lemah, tapi karena cara damai lebih baik (dan lebih cewek gitu loh! Kita bukan laki-laki yang suka berperang demi dominasi). Tidak perlu kita ngaya membuat negara di mana semuanya cewek tokohnya. Kita bisa memulainya dari suami Anda. Cobalah bersikap lebih 'perempuan' dengan berpikir bebas, non-dominatif. Nggak usah berdebat, lelaki khan suka menang, jadi ya udah kita mengalah aja...mengalah untuk menang. Baru ketika mereka lagi klepek-klepek dengan kemenangannya, kita serang...hahahahahaha (taktik cewe banget...)

OK, silakan kalau ada yang mau berkomentar...hehehehe. Saya dah keabisan ide.

Wassalamu'alaikum :))