Melihat berita ini, dan melihat dorama IS, saya akhirnya bisa menjelaskan dengan lebih 'visual' tentang intersex. Tapi sebelumnya mungkin lebih baik kita melihat siapa itu laki-laki dan siapa itu perempuan.
Laki-laki adalah gender yang disematkan pada individu yang memiliki kromosom XY, mengalami pertumbuhan biologis dan psikologis sebagai seorang laki-laki (pernah mimpi basah dengan seorang wanita), dan memiliki alat kelamin laki-laki. Gender ini adalah gender yang dilihat sebagai 'penguasa' pada sistem dunia patriarkal. nah ini adalah definisi laki-laki menurut ketentuan universal (non-agamis).
Lalu, siapa perempuan? Perempuan adalah gender yang disematkan dalam individu yang memiliki kromoseom XX, mengalami pertumbuhan seksual sekunder sebagai seorang wanita, dan memiliki alat kelamin wanita. Persepsinya pun wanita.
Dan kemudian para ilmuwan pun bertanya, lalu orang yang memiliki hormon XXY atau hormon XY tapi tidak punya alat kelamin lelaki disebut apa? Mereka adalah intersex.
Intersex dalam dunia Barat sering dikesampingkan. Tidak seperti fenomena homoseksualisme (baik laki-laki maupun perempuan) yang sudah lumrah sejak jaman Yunani Kuno, intersex sering menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Barat. Dan kita harus tahu bahwa keberadaannya perlu diakui karena fakta biologis telah memberikan seperti itu.
Namun terdapat miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang intersex. Ada kecenderungan yang bilang bahwa intersex yang secara alami disamaratakan dengan banci atau transeksual. Bahkan ada yang menganggap kaum homoseksual sebagai bagian dari intersex. Ini semakin mengaburkan eksisitensi dari intersex sejati karena transeksual dan kaum homoseksual tidak mengalami kesulitan dan beban psikologis yang sama dengan intersex.
Homoseksual misalnya, tak perlu bingung tentang identitas gendernya. Mereka tahu benar bahwa diri mereka lelaki atau pun mereka perempuan. Hanya orientasi seks mereka adalah menyukai sesama jenis. Transeksual pun ada dua macam, yaitu transeksual yang sebenarnya hanya homoseksual yang berbaju perempuan dan transeksual yang memang mengalami GID (Gender Identity Disorder/ Kelainan Identitas Jender). Homoseksual yang berbaju perempuan misalnya tak punya kesulitan berarti dalam melihat identitas gendernya. Dia tahu benar dia adalah lelaki, hanya saja ia ingin berhubungan seks dengan lelaki. Sedangkan individu yang mengalami GID, mereka perlu dibantu karena sangat bingung dengan dirinya.
Lain lagi dengan intersex, dalam serie IS di atas misalnya, Haru dan Miwako harus bergelut dengan identitasnya sebagai intersex. Haru yang semenjak kecil dibesarkan sebagai lelaki tetapi ketika berusia 15 tahun haru mengahdapai kenyataan bahwa ia seorang wanita dengan munculnya siklus haid. Sedangkan Miwako yang dibesarkan sebagai perempuan malah mengalami pertumbuhan genital lelaki pada akhirnya (ia mengalami keterlambatan pertumbuhan alat kelamin lelaki). Mereka berdua harus menghadapi kenyataan, mispersepsi tentang gender mereka dan juga sikap kedua keluarga mereka dalam menghadapi fenomena interseksualitas itu. Miwako bahkan sempat jatuh hati pada Haru walaupun mereka berdua sama-sama mengenakan baju siswi (yang merupakan identitas gender). Setting atau latar dari serial ini adalah Jepang, sebuah negara dengan budaya yang sangat ketat dalam membedakan identitas gender (tetapi pernah menajdi tempat permisif untuk budaya homosekualisme lelaki).
Fenomena ini juga menjadi tinjauan yang miris. Kalau pada jaman Yunani, misalnya ada individu yang terlahir dengan dua alat kelamin, ia akan menjadi tontonan. Bahkan di Amerika ada yang memutuskan menjadi bintang sirkus karena susah mencari pekerjaan sebagai seorang intersex. Kalau kita bandingkan, budaya-budaya tersebuat OK-OK saja dengan homoseksualisme, tapi bersikap membutakan diri dengan fenomena intersex. Agama datang dan akhirnya memberikan pencerahan tentang itu semua.
Dalam Islam, keberadaan intersex diakui. Bahkan ada hadist yang secara gamblang menjelaskan tentang fenomena ini. Ini adalah kutipan dari situs ini tentang intersex :
Khuntsa
Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir, yaitu kelamin laki-laki dan kelamin wanita. Tapi kejadiannya sangat jarang terjadi, walau tetap dituliskan oleh para ulama dalam kitab fiqih mereka terdahulu. Artinya kasusnya bukan sama sekali tidak ada, hanya jarang sekali terjadi.
Para ulama menuliskan ada dua jenis khuntsa. Pertama Khuntsa biasa dan kedua khuntsa musykil.
Khutnsa biasa adalah seorang yang lahir dalam keadaan punya dua alat kelamin sekaligus. Namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan dan lebih berfungsi. Sedangkan alat kelamin yang satunya kurang dominan, walaupun mungkin saja sedikit berfungsi.
Adapun khuntsa musykil, sesuai namanya, memang musykilah. Lantaran dia terlahir dengan dua alat kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Tapi dari sekian banyak khuntsa, yang sampai ke level musykil ini nyaris hampir tidak pernah ada.
Khuntsa pada hakikatnya bukan banci, karena meski dia punya dua alat kelamin, namun salah satunya lebih dominan. Misalnya lebih dominan alat kelamin laki-laki. Meski punya alat kelamin perempuan, namun dia malah tidak mau berpenampilan sebagai perempuan. Penampilannya tetap seperti laki-laki seperti biasa.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:
Dari Ibnu Abbas radhyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang bayi yang lahir dengan dua jenis kelamin, bagaimana urusan pembagian warisannya. Beliau SAW menjawab, "Dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana kencingnya." (HR Al-Baihaqi)
Maksudnya, kalau dia kencing lewat kelamin laki-lakinya, maka dia dianggap laki-laki. Sebaliknya, kalau kencing lewat kelamin perempuannya, maka dia dianggap sebagai perempuan. Ini penting, karena pembagian harta warisan akan berbeda antara anak laki dengan anak perempuan.
Namun karena adanya dua kelamin secara alami ini, para ulama menetapan bahwa khuntsa tidak dibenarkan menjadi imam buat jamaah yang laki-laki. Juga tidak dibenarkan jadi imam buat sesama khuntsa.
Sudah jelas bahwa dalam Islam intersex diakui, tapi tidak dengan perbuatan homoseksual. Maka dalam budaya Islam, kita menggunakan budaya tiga gender, buka dwi-seksual seperti Barat. Budaya tiga gender memberikan persepsi menyeluruh tentang identitas diri, hukum politik, fungsi seorang individu dalam masyarakat dan lain-lain. Budaya dwi-seksualisme (heteroseksual dan homoseksual) mempunyai efek besar dalam masyarakat, seperti yang sudah saya postkan terdahulu.
OK, Silakan merenung!