Assalamu'alaikum!
FYI : Blog ini pro Islam dan ayat-ayat Al Quran jadi maaf bila tidak berkenan untuk beberapa pihak, terutama para aktivis LGBT, para lesbian dan gay sendiri. Maaf bila kata-kata saya Anda nilai mungkin terlalu menusuk dan Anda nilai diskriminatif. Tapi bagi Anda yang ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu, silakan dibaca ajah :)
Halo-halo! Sebenarnya saya sebagai seorang Muslim paling tidak tahu dan paling penasaran dengan alasan mengapa di kitab-kitab suci agama Samawi ada pelarangan terhadap homoseksualisme.
Saya juga sering tertegun karena beberapa self-report dari kasus psikoterapi juga 'mengiyakan' dan menormalkan homoseksualisme. Katanya, homoseks bukan penyimpangan, itu hanya variasi genetik. Lho kok agama lagi-lagi berseberangan sama sains sih?? Kok bisa?? Emang Tuhan bisa salah?? Apa kita yang salah menafsirkan ayat? Sering sekali terbersit pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saking penasarannya, akhirnya saya memutuskan untuk menilai sendiri dengan melihat argumen baik yang pro maupun yang kontra. Saya mulai dari yang pro dulu. Saya penasaran dengan pendapat para aktivis LGBT tentang gay dan homoseksualisme.Saya mencarinya di internet, tetapi kok sumbernya gak lengkap, akhirnya saya mencari di buku online. Diantara buku-buku yang saya temukan terdapat dua buku, yaitu The Origin of Same-sex Attraction dan Forbidden Friendship. Dari kata-katanya sudah sangat jelas sekali bahwa buku-buku ini sangatlah netral, bahkan cenderung berpihak pada aktivis HAM yang membela laki-laki dan perempuan, feminis dan lain-lain. Melihat dari sisi 'korban' adalah cara yang tepat, begitu saya pikir saat itu. Biasa... logika seorang guru BK.
Dalam buku pertama (The Origin of SSA), penulis ingin mengungkapkan bahwa homoseksualisme ada di seluruh sejarah manusia. Penulis menjelaskan secara jelas tentang hubungan homoseksual (terutama gay atau homoseksual lelaki) dan budaya homoseksual sebelum budaya Kristiani seperti Yunani Kuno, Romawi, Jepang jaman Sengoku dan Edo serta budaya sufistik Islam (hey! bagi saya itu bukan homoseks...cuma cinta sufistik...penulis ini ngawur banget).
Baiklah, kembali lagi ke buku ini, buku ini menjelaskan bahwa terdapat budaya yang 'baik-baik' saja dengan budaya homoseksual. Misalnya dalam budaya Yunani, sangatlah bisa bila seorang lelaki kaya memiliki anak muda yang dia jadikan simpanannya, Sang istri sudah paham. Begitu pula dengan keluarga, sudah tahu benar apa yang akan terjadi dengan putrinya bila menikah dengan lelaki kaya. Yah, itu karena dalam budaya Yunani Kuno wanita dianggap belum dewasa, tidak sepadan pengetahuannya dengan lelaki, sehingga suaminya pun 'berpetualang' mencari lelaki yang bisa memuaskan kebutuhan psikologis dengan mencari anak muda yang cerdas dan menarik. Begitu pula dengan para Samurai di jaman Sengoku dan Edo, jauh lebih mengagumi anak muda mungkin daripada istrinya. Cara Samurai 'mencintai' anak muda ini disebut wakashudo atau secara singkat dengan shudo. Contoh konkritnya sangat banyak, yang paling terkenal adalah Oda Nobunaga yang memiliki hubungan seksual dengan Mori Ranmaru dan Takeda Shingen yang memiliki hubungan cinta dengan Kosaka Masanobu. Hubungan mereka disejajarkan dengan ketrampilan ksatria Jepang lainnya seperti kendo, kyudo, judo, dan semua yang akhirannya do (BTW, artinya 'The way of..), yang berasosiasi dengan bushido atau jalan para ksatria. Para istri dan wanita bahkan memuja 'hubungan' ini sebagai kualitas maskulin seorang pria. Yah, hal ini juga terjadi di Yunani Kuno (The Sacred Band of Thebes) dan beberapa budaya kuno lainnya, jadi saya bisa maklum. Yang namanya militer jaman dahulu memang sangat memuja cinta antara prajurit, jadi terkadang jadi lebay alias berlebihan.
Baiklah, kembali lagi ke buku ini, buku ini menjelaskan bahwa terdapat budaya yang 'baik-baik' saja dengan budaya homoseksual. Misalnya dalam budaya Yunani, sangatlah bisa bila seorang lelaki kaya memiliki anak muda yang dia jadikan simpanannya, Sang istri sudah paham. Begitu pula dengan keluarga, sudah tahu benar apa yang akan terjadi dengan putrinya bila menikah dengan lelaki kaya. Yah, itu karena dalam budaya Yunani Kuno wanita dianggap belum dewasa, tidak sepadan pengetahuannya dengan lelaki, sehingga suaminya pun 'berpetualang' mencari lelaki yang bisa memuaskan kebutuhan psikologis dengan mencari anak muda yang cerdas dan menarik. Begitu pula dengan para Samurai di jaman Sengoku dan Edo, jauh lebih mengagumi anak muda mungkin daripada istrinya. Cara Samurai 'mencintai' anak muda ini disebut wakashudo atau secara singkat dengan shudo. Contoh konkritnya sangat banyak, yang paling terkenal adalah Oda Nobunaga yang memiliki hubungan seksual dengan Mori Ranmaru dan Takeda Shingen yang memiliki hubungan cinta dengan Kosaka Masanobu. Hubungan mereka disejajarkan dengan ketrampilan ksatria Jepang lainnya seperti kendo, kyudo, judo, dan semua yang akhirannya do (BTW, artinya 'The way of..), yang berasosiasi dengan bushido atau jalan para ksatria. Para istri dan wanita bahkan memuja 'hubungan' ini sebagai kualitas maskulin seorang pria. Yah, hal ini juga terjadi di Yunani Kuno (The Sacred Band of Thebes) dan beberapa budaya kuno lainnya, jadi saya bisa maklum. Yang namanya militer jaman dahulu memang sangat memuja cinta antara prajurit, jadi terkadang jadi lebay alias berlebihan.
Kemudian di bagian lain buku ini penulis menerangkan bahwa cinta sufistik dalam Islam sangat berbau homoseksual. Tapi untuk sesi dan bab yang satu ini, saya sangat tidak setuju, karena seingat saya orang sufi tidak berhubungan seks dengan siapa pun.
Kesimpulan yang dapat ditarik si penulis adalah bahwa sejarah homoseksualisme sudahlah sangat lama dan banyak bangsa melakukannya tanpa adanya bencana yang datang kepada mereka setelah itu. bahkan ia memperkuat argumennya dengan bukti bahwa homoseksualisme (terutama male homosexuality) adalah genetik dan tak bisa diubah. Tapi kemudian saya melihat hidden facts yang disampaikan di kaskus (yang tidak diterbitkan karean dianggap menuai protes di Amerika ) bahwa hanya 5% dari seluruh populasi yang mengaku homoseksual (baik gay maupun lesbian) yang mendapatkan perilaku homseksualnya dari gen. Sedangkan sisanya adalah korban pelecehan seksaul yang tidak sadar pada kenyataan hidupnya (menjadi korban pelecehan). Yah, lagi-lagi ternyata buku ini banyak simpang siurnya, jadi saya agak ragu dengan kebenaran buku ini. Kok banyak yang ngawur ngawur. Saya malah jadi berpikir lain dengan simpulan yang dibuat oleh si pengarang.
Kesimpulan yang dapat ditarik si penulis adalah bahwa sejarah homoseksualisme sudahlah sangat lama dan banyak bangsa melakukannya tanpa adanya bencana yang datang kepada mereka setelah itu. bahkan ia memperkuat argumennya dengan bukti bahwa homoseksualisme (terutama male homosexuality) adalah genetik dan tak bisa diubah. Tapi kemudian saya melihat hidden facts yang disampaikan di kaskus (yang tidak diterbitkan karean dianggap menuai protes di Amerika ) bahwa hanya 5% dari seluruh populasi yang mengaku homoseksual (baik gay maupun lesbian) yang mendapatkan perilaku homseksualnya dari gen. Sedangkan sisanya adalah korban pelecehan seksaul yang tidak sadar pada kenyataan hidupnya (menjadi korban pelecehan). Yah, lagi-lagi ternyata buku ini banyak simpang siurnya, jadi saya agak ragu dengan kebenaran buku ini. Kok banyak yang ngawur ngawur. Saya malah jadi berpikir lain dengan simpulan yang dibuat oleh si pengarang.
Sekarang kita membicarakan buku kedua, yaitu Forbidden Friendship, yang lebih spesifik membahas tentang budaya homoseksualisme dalam masyarakat Florence atau Firenze pada tahun 1600-an. Di dalamnya dibahas tentang 'budaya' homoseksualisme, termasuk budaya yang bila diaplikasikan pada jaman ini bisa dilabeli dengan hubungan seks demi dominasi politik laki-laki kepada laki-laki yang lebih muda. Dalam prakteknya juga diterangkan bahwa cowok-cowok yang melakukan ini adalah lelaki yang maskulin, saking maskulinnya jadi perlu mendominasi lelaki lain dengan seks. Akibatnya banyak lelaki muda yang 'diancam' akan dibunuh bila tidak mau memberikan tubuhnya pada si lelaki pengancam. Bahkan ada banyak nyanyian dan puisi yang memuji budaya ini. Ini terjadi pada lelaki di usia 20-an dan 30-an. Saya jadi bingung, masa' cinta adalah dominasi? Malah rasanya seperti baca komik yaoi yah? Padahal saya sudah punya pikiran kalau yaoi tuh nggak nyata.
Tentang lesbianisme, saya akan menjelaskannya sesuai memori saya karena artikel internet lebih banyak memberikan penjelasan tentang fenomena lesbianisme. Tentang hubungannya dengan homoseksualisme yang dilakukan lelaki, tahukah Anda apa yang terjadi para wanita Lesbian penghuni pulau Lesbo dan para murid Sappho? Salah satu artikel di internet menyebutkan bahwa mereka akhirnya menikah dengan para elit kaya di Yunani dan ada kemungkinan juga harus menjalani hidup diselingkuhi suaminya yang mungkin punya cowok lain (oh..my...girl...). Jadi para orang Yunani Kuno tersebut sepertinya tidak segan-segan melukai harga diri istri mereka dengan melabeli mereka 'bodoh' dan memilih lelaki sebagai pelampiasan hasratnya. Ditambah lagi Plato yang entah mengapa memberikan pernyataan-pernyataan bias tentang wanita, jadi filosofi agung Yunani juga tak terlalu ambil pusing dengan nasib para wanita, atau perasaan mereka. No problem, eh? Hal ini karena budaya Yunani menempatkan lelaki sebagai pemimpin absolut dalam suatu hubungan, maskulinitas adalah kualitas terbaik, dan sebagainya. Yah, lagi-lagi saya harus maklum, biasa...orang-orang yang dibesarkan dalam iklim patriarkal menahun.
OK, sekarang kita beralih ke benua lain. Beralih ke Homoseksualisme yang dilakukan oleh wanita. Lesbianisme di beberapa daerah di Afrika dianggap bukan termasuk hubungan seksual karena hubungan seksual hanya terjadi bila ada *maaf* kelamin pria di dalamnya. Jadi cewek-cewek punya kebebasan yang sangat besar untuk mengeksplorasi hasrat seks mereka di sana. Yah, tahu sendiri kan, kissing, petting, dan lain-lain. Di lain pihak, para pria bila ketahuan berhubungan seks dengan pria lain bisa mendapatkan hukuman mati. Bisa dibilang fenomena ini sangat berkebalikan dengan fenomena di Yunani. Hal ini karena banyak suku di Afrika adalah matrilineal bahkan matriarkal, di mana keputusan tertinggi dipengaruhi oleh keputusan para wanita.
Kesimpulan yang saya ambil dari kedua buku di atas malah berbeda dengan para penulisnya. Beberapa hal yang bisa ditarik, terutama tentang pola kebudayaan homoseksualisme adalah :
Ini adalah prakiraan saya, yang terjadi tentu saja (1) akan adanya dua kelompok gender manusia yang kurang bersimpati satu sama lain (tidak tertutup kemungkinan saling berperang atau sama sekali saling tidak mempedulikan), (2) adanya penurunan angka kelahiran manusia (tapi ini bagus menurut ekologi, karena yang kita butuhkan adalah ini) bersamaan dengan meningkatnya seks bebas yang betul-betul bebas (3) seandainya terjadi bencana (mari kita bayangkan bila ini BUKAN kutukan dari Tuhan), orang-orang terlalu sibuk bercinta dan berhubungan intim sehingga lupa melarikan diri seperti pada fenomena kota Pompeii.
Bisa dibilang dalam praktiknya, lesbianisme dan homoseksualisme bila pelakunya massal, hanya akan menimbulkan distorsi moral dan kecemburuan antar manusia yang besar. Kecemburuan itu seperti kecemburuan sosial antar jender, antar lelaki dan perempuan dan perempuan dengan lelaki. Bayangkan saja bila ada budaya yang seperti itu, para suami ogah berhubungan badan dengan istrinya (yang sudah pandai), begitupun sebaliknya. Ingat! Wanita lebih punya kefleksibelan dalam memilih orientasi seksnya, bahkan wanita yang heteroseksual bisa jadi lesbian bila 'perlu'.
OPINI SAYA (...sangat subyektif):
Itulah mengapa Tuhan (Allah) menciptakan kita laki-laki dan perempuan agar kita saling mengenal. mengenal di sini bukan hanya dalam seks, tapi juga filosofis dan hubungan psikologis. Apakah kita ingin hidup di jaman di mana perkosaan dari seorang lelaki kepada lelaki lain adalah wajar?? Apakah kita mau kembali ke masa di mana para perempuan harus terima-terima saja bila suaminya selingkuh dengan lelaki lain?? Cobalah memahami ayat-ayat Tuhan. Mungkin bencana yang ditimpakan kaum Luth dengan kaum kita akan berbeda. Kaum Luth langsung bencana lama, kita bencana kemanusiaan. Sejarah telah membuktikan. Mungkin homoseksualisme dalam massa yang kecil tidak kentara, tapi dalam massa yang besar dapat mencederai persepsi kita tentang Hak Asasi Manusia.
Kesimpulan yang saya ambil dari kedua buku di atas malah berbeda dengan para penulisnya. Beberapa hal yang bisa ditarik, terutama tentang pola kebudayaan homoseksualisme adalah :
- Bila ada suatu kelompok gender (laki-laki atau perempuan) yang berkuasa dan mempraktikan budaya homoseksualisme, terlepas dari orientasi seks dari pelaku, akan terjadi diskriminasi antara kelompok gender yang lebih berkuasa kepada gender yang lebih submisif. Misalnya seperti di atas.
- Kultur, baik seni, filosofi, dan segala dampak kehidupan juga sangat berat sebelah dalam menilai gender yang lebih submisif. Misalnya pendapat Plato yang bias dan ambigu tentang wanita, juga pendapat Shingen Takeda (daimyo jaman Sengoku) yang menempatkan hubungan suami istri lebih rendah dari hubungan dua orang prajurit (terutama atasan-bawahan).
- Terdapat perbedaan tipis antara definisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seks, misalnya perkosaan (yang kemudian tidak ada istilah perkosaan bila hubungan seks itu dilakukan oleh dua orang lelaki, terlepas dari pihak yang satu merasa dipaksa). Contohnya adalah pada buku Forbidden Friendship tersebut.
Ini adalah prakiraan saya, yang terjadi tentu saja (1) akan adanya dua kelompok gender manusia yang kurang bersimpati satu sama lain (tidak tertutup kemungkinan saling berperang atau sama sekali saling tidak mempedulikan), (2) adanya penurunan angka kelahiran manusia (tapi ini bagus menurut ekologi, karena yang kita butuhkan adalah ini) bersamaan dengan meningkatnya seks bebas yang betul-betul bebas (3) seandainya terjadi bencana (mari kita bayangkan bila ini BUKAN kutukan dari Tuhan), orang-orang terlalu sibuk bercinta dan berhubungan intim sehingga lupa melarikan diri seperti pada fenomena kota Pompeii.
Bisa dibilang dalam praktiknya, lesbianisme dan homoseksualisme bila pelakunya massal, hanya akan menimbulkan distorsi moral dan kecemburuan antar manusia yang besar. Kecemburuan itu seperti kecemburuan sosial antar jender, antar lelaki dan perempuan dan perempuan dengan lelaki. Bayangkan saja bila ada budaya yang seperti itu, para suami ogah berhubungan badan dengan istrinya (yang sudah pandai), begitupun sebaliknya. Ingat! Wanita lebih punya kefleksibelan dalam memilih orientasi seksnya, bahkan wanita yang heteroseksual bisa jadi lesbian bila 'perlu'.
OPINI SAYA (...sangat subyektif):
Itulah mengapa Tuhan (Allah) menciptakan kita laki-laki dan perempuan agar kita saling mengenal. mengenal di sini bukan hanya dalam seks, tapi juga filosofis dan hubungan psikologis. Apakah kita ingin hidup di jaman di mana perkosaan dari seorang lelaki kepada lelaki lain adalah wajar?? Apakah kita mau kembali ke masa di mana para perempuan harus terima-terima saja bila suaminya selingkuh dengan lelaki lain?? Cobalah memahami ayat-ayat Tuhan. Mungkin bencana yang ditimpakan kaum Luth dengan kaum kita akan berbeda. Kaum Luth langsung bencana lama, kita bencana kemanusiaan. Sejarah telah membuktikan. Mungkin homoseksualisme dalam massa yang kecil tidak kentara, tapi dalam massa yang besar dapat mencederai persepsi kita tentang Hak Asasi Manusia.
Assalamu'alaikum!